****
Luky, Daniel, dan juga Revan yang mendengar ucapan Dava seketika saja saling menatap satu sama lain. Dengan tatapan bingung, tekejut, sekaligus senang. Bagaimana tidak? Mereka bertiga di ajak untuk bergabung bersama Refour. Sebuah perkumpulan yang begitu terkenal di kalangan murid-murid sekolah.
Reno yang sedang duduk di kursinya tiba-tiba saja berdiri. Membuat semua orang yang ada di sekitarnya seketika saja menoleh secara bersamaan.
"Lo kenapa?" tanya Dava dari tempat duduknya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo dan kalian berempat," ucap Reno milirik sekilas ke arah Arion, Kevin, Putra, dan juga Ryan yang berada di sisi kirinya.
Tidak lama setelah mendengar ucapan laki-laki itu. Dava bangkit dari posisi duduknya dengan di ikuti oleh teman-temannya yang lain. Sedangkan Gerlan, Luky, Daniel, dan Revan hanya memperhatikan mereka semua dalam diam.
"Lo semua tunggu di sini sebentar," ucap Dava kepada Gerlan serta teman-temannya. Sebelum ia berhasil melangkahkan kakinya menyusul Reno, Arion, Kevin, Putra dan Ryan yang sudah terlebih dahulu pergi dari ruangan itu.
"Apa yang mau lo omongin sama gue?" tanya Dava menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar besar yang ada di belakangnya.
"Gue kurang setuju sama keputusan lo tadi," ucap Reno membuat Dava menaikkan salah satu alisnya.
Dulu waktu pertama kali Gerlan bergabung bersama mereka di Refour. Reno sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan tentang hal itu. Tapi mengapa sekarang dia bisa tiba-tiba tidak setuju jika teman-teman Gerlan juga ikut bergabung bersama mereka.
"Kalian berempat juga nggak setuju sama keputusan gue?" tanya Dava kepada Arion, Kevin, Putra, dan juga Ryan yang berdiri tidak jauh darinya. Ke empat orang itu hanya saling menatap satu sama lain tanpa berniat menjawab pertanyaan dari ketua mereka.
"Apa yang buat lo semua nggak setuju?" tanya Dava langsung kepada intinya. Setelah menangkap jelas apa yang ada di dalam pikiran teman-temannya itu.
"Karena kita baru mengenal mereka semua beberapa minggu yang lalu," sahut Kevin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Gue nggak peduli sebarapa lama gue kenal sama mereka semua. Karena dengan kejadian penculikan kemarin. Gue yakin kalau mereka memang pantas bergabung di Refour."
"Seyakin itu lo minta mereka buat gabung sama kita?" tanya Ryan membuat semua pandang mata melihat ke arahnya.
Dava mengangguk singkat. "Kita butuh orang-orang yang tepat buat jadi penerus Refour nanti. Karena perkumpulan ini nggak mungkin selalu ada di tangan kita."
"Maksud lo, Refour bakal jatuh ke tangan Gerlan dan teman-temannya?" tanya Putra yang masih sedikit tidak paham dengan ucapan Dava.
"Gue bakal percayakan Refour ke mereka semua. Gue yakin mereka bisa pegang amanah ini," ungkap Dava.
"Bukannya Aksa adalah orang yang paling dekat sama lo? Kenapa bukan dia yang jadi penerus Refour?" gumam Arion melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aksa masih terlalu muda buat jadi seorang penerus," sela Reno mewakili apa yang ada di dalam pikiran Dava saat ini.
"Memilih seorang penerus bukan karena orang itu yang paling dekat sama kita. Tapi dia yang bisa bertanggung jawab sama apa yang bakal terjadi ke depannya."
Dava dan Aksa memang bisa di bilang sangat dekat. Bahkan ia sudah menganggap laki-laki itu sebagai Adiknya sendiri. Tapi ia sangat yakin jika Aksa masih belum bisa di beri tanggung jawab jika harus menjadi penerus Refour.
KAMU SEDANG MEMBACA
GERLAN (END)
RomanceGerlan Mauriz, laki-laki tampan yang terkenal memiliki sifat sedingin es yang selalu menampilkan wajah datarnya. Selama 18 tahun ia menjalani hidup, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya terpikat oleh perempuan. Hingga akhirnya waktu it...
