Part 37. Hari Bersejarah

472 52 5
                                        

****

Nafisha terlihat sedang berjalan-jalan seorang diri di sekitaran pinggir danau. Dengan seragam SMA Pelita Bangsa yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Angin tiba-tiba saja berhembus lumayan kencang. Hingga berhasil menerbangkan sebagian rambut Nafisha yang saat ini sedang dalam keadaan tergerai bebas.

Nafisha berjongkok, mengambil sebuah batu kecil yang tergeletak tepat di depan sepatunya. Memandang batu itu sebentar sebelum akhirnya ia lempar ke tengah-tengah danau.

"Nafisha," panggil seseorang dari arah belakang. Membuat perempuan itu langsung menoleh dan tersenyum. Ketika mendapati sosok Gerlan yang sedang berdiri tidak jauh darinya.

"Buat lo." Gerlan memberikan Es-krim rasa coklat yang ada di genggaman tangan kanannya kepada Nafisha. Saat sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Makasih."

Mereka berdua memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang yang berjarak beberapa meter dari danau.

"Mau sampai kapan Kak Gerlan tinggal di apartemen?" tanya Nafisha menoleh sekilas ke arah Gerlan yang sedang duduk di sampingnya.

"Sampai nyokap gue sendiri yang suruh gue buat pulang ke rumah," jawab Gerlan seraya menikmati Es-krim vanilla yang ada di genggaman tangannya.

"Tapi kalau hal itu nggak pernah terjadi, gimana?"

"Gue nggak masalah kalau emang harus tinggal di apartemen buat selama-lamanya."

Nafisha terdiam memperhatikan Gerlan. Menghiraukan Es-krim miliknya yang sudah mulai mencair. Apa laki-laki itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana caranya nanti dia bertahan hidup. Jika harus tinggal sendirian di apartemen yang setiap bulannya pasti selalu membutuhkan biaya untuk membayar sewa. Belum lagi dia juga harus membeli beberapa makanan atau pun minuman untuk memenuhi kebutuhannya.

Dari mana Gerlan bisa mendapatkan uang untuk membayar itu semua jika dia saja tidak bekerja. Sepertinya Nafisha harus memikirkan berbagai cara untuk membuat Lovata luluh. Dan berakhir menjadi meminta Gerlan kembali lagi tinggal bersama mereka.

****

Nafisha berjalan cepat ke arah pintu rumahnya. Ketika tidak sengaja mendengar suara bel yang terus di tekan oleh seseorang yang ada di luar sana.

"Iya, sebentar!" teriak Nafisha saat suara bel itu semakin lama semakin terdengar menuntut. Biasanya jika ada tamu yang datang ke rumah mereka pasti selalu ada ART yang bertugas membukakan pintu. Tapi sekarang Nafisha sama sekali tidak melihat ART itu di dalam rumahnya.

"Siapa?" tanya Nafisha seraya membuka salah satu pintu rumahnya. Tepat setelah itu ia melihat ada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan teras rumahnya. Lengkap menggunakan seragam sekolah SMP serta tas ransel berwarna putih yang ada di punggungnya.

Nafisha sama sekali tidak bisa mengenali siapa perempuan itu. Karena dia sedang dalam keadaan membelakanginya. Tapi entah kenapa ia merasa tidak asing dengan postur tubuh yang di miliki olehnya.

"Amanda?" perempuan itu tiba-tiba saja berbalik. Menatap wajah Nafisha dengan senyum kecil yang terbit di kedua sudut bibirnya.

"Kak Nafisha kenal aku?" tanya Amanda yang langsung di balas anggukan cepat oleh Nafisha. Walaupun mereka hanya pernah bertemu dua kali saja dan juga tidak pernah mengobrol satu sama lain. Tapi Nafisha masih sangat ingat nama dari Adik kekasihnya itu.

"Ayo masuk, kita ngobrol di dalam." Nafisha segera mengajak Amanda masuk ke dalam rumahnya. Menyuruh perempuan itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.

GERLAN (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang