30. perjuangan

8.9K 538 213
                                        

SENENG GA?!

ABSEN DULU SINI!!

SIAP RAMEIN YAA?!!

okee selamat membaca!

---

Sudah hampir menginjak minggu ke-3, dimana Vega menjauh dari Naren. Dan selama itu juga Naren berusaha memperjuangkan Vega. Walaupun kini sudah tercipta jarak antara Naren dan Vega, wajah Naren selalu saja terbayang di pikiran Vega. Semakin hari di setiap harinya lelaki itu tiada henti melakukan sesuatu yang membuat Vega rasanya ingin menyerah untuk menjauh. Setiap hari di pagi hari, sebelum ia datang pasti sudah tersimpan sebuah makanan atau minuman di mejanya. Tidak lupa dengan post-it yang bertuliskan kata maaf. Dan setiap hari di sere hari saat Vega pulang menuju rumahnya, selalu saja terdapat motor hitam yang mirip dengan Blave mengikutinya dari belakang. Vega tahu betul bahwa itu Naren. Semua itu terus berulang di setiap harinya tanpa absen. Karena Naren hanya bisa melakukan itu, berjuang tanpa harus muncul di hadapan Vega. 

Vega menatap sebuah minuman berasa yang kini ada di genggamannya, kali ini tulisan di post-it itu berbeda dari biasanya. 

Masih marah? gue belum bisa dapet maaf ya? untuk kesekian kalinya, maaf.

Vega menghembuskan napasnya pelan. Ia kembali menaruh minuman itu di atas mejanya. Tangan kirinya terulur, dan ia jadikan sebagai bantalan. Vega menjatuhkan kepalanya di lengannya. Pandangannya lurus menatap jendela yang berada di sampingnya. Perlahan matanya mulai tertutup, berusaha memberi istirahat pada pikiran dan hatinya.

Sedangkan di ujung kelas, empat bangku ke belakang dari bangku Vega. Seseorang sedang menatap teduh perempuan yang tertidur. Naren menghela napasnya, semakin hari ia semakin khawatir. Ia khawatir akan perasaan Vega yang akan berubah. Ia takut Vega tidak menyukainya lagi. Ia takut tidak akan mendengar teriakkan Vega yang memanggilnya. Ia juga takut pada akhirnya Vega benar-benar akan menganggapnya angin lalu. Dan kini, Naren mencemaskan keadaan perempuan itu. Naren merindukkan Vega. Rindu kehadiran perempuan itu. Rindu ocehan dan teriakkan yang keluar dari bibirnya. Rindu wajah ke khawatiran dari wajah cantiknya. Rindu tatapan hangat dan tatapan berbinar yang setiap kali Vega tunjukkan setiap kali menatapnya. Dan ia selalu berharap semua akan ia dapatkan kembali. 

Naren menghela napasnya gusar. Hatinya sungguh tidak tenang. Perubahan Vega bukan hanya ditunjukkan kepada dirinya, tetapi akhir-akhir ini perempuan berambut panjang itu jadi lebih pendiam dari biasanya. Entah karena apa, tapi Naren takut itu karena dirinya. Ia takut perbuatannya mengusik Vega. Ia juga takut, sesuatu hal terjadi pada gadis itu. 

Naren mengambil sebuah buku catatan dan langsung merobek sebuah kertas. Tangannya langsung bergerak menuliskan sesuatu di kertas putih itu menggunakan pulpen.

Are you ok? gue khawatir. Lo jadi lebih pendiem. Gue kangen lo yang gue kenal, jangan diem terus. Seenggaknya senyum buat hari-hari lo.

Naren menaruh pulpennya. Ia membaca tulisan itu berulang kali. Ini kali pertamanya ia menuliskan surat seperti ini. Surat terpanjang yang pernah ia tulis. Ale pasti bangga melihat tulisannya. Vega Aresha, perlahan-lahan perempuan itu berhasil mengubah sikap Naren.

Naren segera bangkit dari bangkunya, ia langsung berjalan mendekati bangku Vega. Matanya mengedar ke arah sekeliling, ketika tidak ada yang menatap ke arahnya. Naren langsung menaruh kertas itu di depan wajah Vega yang sedang tertidur. Setelah itu, Naren langsung mendongak memastikkan keadaan sekitarnya lagi. Dan sialnya, ia melihat Langit yang menatap ke arahnya dengan wajah menyebalkan. Kedua telunjuk lelaki itu terangkat menunjuknya, sembari meledek Naren dengan cengiran lebar di wajahnya. Naren mendengus, ia menatap tajam Langit membuat langit langsung memasang wajah datar. Tak berani bermacam-macam dengan Naren. 

VEGANDRA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang