[FOLLOW SEBELUM BACA!] belum direvisii, buruan bacaa!
Cerita cowok ngejar cewek? Bukan! Nih kali ini kenalin cerita cewek primadona yang ngejar cowok sedingin kulkas! Tapi yakin kuat bacanya? Mampir ke cerita Vegandra!
---
Vega suka makan, suka moto...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam kemarin Vega habis dimarahi Ayahnya lagi. Bukan karena pulang malam, lagipula Vega pulang sebelum jam tujuh malam. Tapi karena, lagi-lagi Elvan sakit. Adik bungsu nya itu terkena demam tinggi. Lagi-lagi, Ayah nya melampiaskan ke khawatiran nya pada kakak pertama. Vega dimarahi karena tidak memperhatikan dan menjaga adiknya dengan benar. Padahal, di usianya kini Vega sedang sibuk-sibuknya belajar dan memang waktunya asik bermain dengan teman. Elvan sudah memiliki babysitter, lantas kenapa lagi-lagi ia selalu kena amarahnya?
Pagi ini ia tidak ada keinginan untuk sarapan. Ia tidak ingin bertemu Ayah nya. Perdebatan di malam itu pun, belum selesai. Karena Vega langsung mengabaikan Ayah nya dan masuk ke kamar. Dengan seragam yang telah ia kenakan, Vega membuka ponselnya sebelum meninggalkan kamar.
Pesan balasan dari Naren tidak kunjung datang, artinya pacarnya itu hanya membaca pesan dari nya. Vega mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam saku seragamnya. Ia segera keluar dari kamar dan keluar dari rumahnya tanpa mempedulikan panggilan Vales. Mungkin Vales pasrah-pasrah saja jika di suruh ini itu dengan Ayahnya. Tapi kini Vega sudah muak, ia tidak ingin bertemu lebih dulu dengan Ayahnya jika mereka memang belum berdamai. Tunggu saja sampai kekesalannya reda.
Lima belas menit kemudian Vega sudah sampai di SMA tercintanya. Mengingat teman-temannya adalah para manusia ngaret yang pastinya belum datang di pukul 6 pagi, Vega memutuskan untuk masuk ke kelas nya lebih dulu. Hanya ada satu orang di kelas, perempuan paling rajin dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya dan merupakan juara tiga besar saat kelas 10. Vega menekuk bibirnya, ketika Naren belum ada di dalam kelas. Memang sih, pacarnya itu sangat rajin namun masih lebih rajin Amalia-cewek yang paling rajin itu.
Benar saja, seperti dugaan Vega. Tanpa menunggu waktu yang lama, seseorang yang sedari tadi ia nantikan akhirnya datang juga.
"Pacaar!" Vega melambaikan tangannya dengan wajah cerianya.
Naren tersenyum tipis, namun ia berjalan melewati Vega begitu saja. Membuat Vega mecibikkan bibirnya.
Sapa kek, atau usap kepala gitu? cuek banget.
Vega bangkit dari bangkunya, memutuskan untuk menghampiri pacarnya yang super cuek itu. Gak tau deh, kadang pacarnya bisa perhatian dan kadang juga jadi cuek banget. Ya kayak sekarang. Vega menarik bangku yang berada di sebelah bangku Naren, kemudian ia duduk di sebelahnya.
"Makan," Naren mengeluarkan sebuah makanan yang diwadahi wadah transparan. Sehingga Vega bisa langsung melihat jelas makanan itu.
Vega menatap sarapan itu kemudian menatap Naren tak percaya, "Kamu bawain aku sarapan?" Perasaannya sekarang ini antara kaget dan senang tak percaya.
Tanpa menanggapi Vega, Naren segera membuka tempat bekal itu. "Makan,"
Vega menggigit bibir bawahnya, ia menahan senyumnya.