Fajar POV
Jantungku berdegup keras sekali begitu menginjakkan kaki di lantai rumah sakit yang terlampau putih. Marun masih mengikutiku di belakang. Hiruk pikuk di lobi, petugas medis yang tergesa-gesa dan suara tangis yang kian keras seiring langkahku yang semakin dekat dengan UGD. Mataku menangkap orang-orang yang aku kenali. Orang tua Azka, ibunya sibuk menangis di pelukan suaminya. Dan Stella yang berurai air mata hanya berdiri di ujung lorong menyambutku.
Tiba-tiba aku jadi tidak ingin kesana, aku tidak siap menyambut kenyataan yang akan menamparku di depan mata. Aku berdiri di hadapan Stella yang sibuk menutup mulutnya, mencoba meredam tangisnya meski hanya sia-sia.
"Azka gimana La?"
Bukannya menjawab tangisnya malah semakin keras. Stella belum mengatakan sepatah katapun tapi rasanya nafasku seperti direnggut paksa dari rongga dadaku melihatnya seperti itu.
"Azka gimana La?" aku bertanya lebih keras sembari mengguncang bahunya, menarik atensi kedua orang tua Azka padaku. Tapi mereka juga tidak memberikan jawaban yang aku inginkan.
"Stella, jawab!"
Marun menyentuh lenganku, Stella membuka mulut. "K-kritis," kemudian tangisnya berlanjut.
Genggamanku terlepas dari bahu Stella. Kakiku rasanya kehilangan kekuatannya dan berubah menjadi jeli. Aku tertatih-tatih menuju dinding di belakangku, menumpukan berat tubuh disana hingga merosot ke bawah.
Aku berjongkok di koridor dengan pikiran kosong. Seluruh tenagaku rasanya dikuras paksa. Tidak tahu harus merasa lega atau bagaimana. Azka memang tidak mati, tapi keadaannya sekarang apakah termasuk sesuatu yang bisa kusyukuri?
Napas yang tadinya seolah hilang kini mulai kembali meski tanganku masih gemetar dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Aku mendongak menatap Stella yang kini sedang dihibur Marun. Dia sama gemetarnya denganku.
Aku mengusap wajah dengan kasar, masih mencoba memproses apa yang yang sedang terjadi. Tangisan ibunya Azka dan tangisan Stella menjadi satu-satunya sumber suara di lorong yang sepi sekaligus berisik ini.
•••
Pukul 9 malam. Sudah tidak ada yang menangis lagi. Semua orang hanya diam di tempatnya menunggu Azka di dalam UGD sadar kembali. Aku dan Stella duduk di kursi tunggu dengan jarak satu kursi diantara kami. Sedangkan kedua orang tua Azka masih setia berdiri di depan pintu mencoba mencuri secuil pemandangan tentang keadaan anaknya.
Dan detik-detik ini adalah detik paling hening sekaligus paling lama dalam hidupku. Mungkin begini rasanya ketika teman-temanku menunggu kepastian bahwa aku akan hidup atau tidak. Aku jadi membenci Azka dan segala tanda tanya yang dia tinggalkan di kepalaku.
Dia dimana saat meneleponku tadi? Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan sebelum jadi begini? Tidak ada yang bisa menjawabnya selain Azka sendiri. Sebenarnya apa sih yang anak itu pikirkan? Aku jadi kesal padanya karena sudah membuatku merasa seperti ini. Menunggunya sadar membuatku serasa ingin mati.
"Permisi, ini pakaian yang digunakan pasien bernama Azka Wijaya Pratama saat kecelakaan tadi,"
Aku dan Stella sama-sama mendongak pada suster yang menyerahkan barang-barang Azka yang disatukan dalam satu wadah. Stella yang menerimanya lebih dulu dan mengucapkan terima kasih, kemudian meletakkannya diantara kami.
Aku memperhatikan barang-barang itu begitu Stella meletakkannya. Pakaian yang sudah dilipat, dompet, ponsel yang layarnya retak sana sini dan jam tangan yang berlumuran darah.
Aku menyingkirkan kunci mobil sialan itu dari atas baju Azka, meraih pemantik berwarna biru yang mengintip sedikit dari kantung bajunya. Kumasukkan lagi tanganku ke dalam dan mendapati kotak rokok beserta isinya yang sudah remuk, menjatuhkan serpihan tembakau di celanaku dan juga lantai. Stella hanya memperhatikanku menyentuh barang-barang Azka.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐀𝐋𝐈𝐕𝐄
Novela JuvenilKepergian dua orang yang paling disayang olehnya memberikan kekosongan yang panjang dalam hidup Fajar. Ketika orang-orang yang berhubungan dengan kejadian itu sanggup menjalani kehidupan normal, waktu seolah berhenti berputar hanya untuk Fajar sendi...
