Inner Child

109 22 13
                                        

Marun POV

Aku sedang mencari Azka ketika aku tidak bisa menemukan cowok itu di kelasnya. Berbekal segenggam berita yang mendebarkan, aku bertanya pada penghuni kelas disana dan diberitahu bahwa Azka barusan pergi dengan Daniel. Lantas saja aku menyusuri lorong koridor dengan setengah berlari mencari mereka.

Ketemu! Buru-buru aku menghentikan langkah ketika melihat Daniel dan dua temannya sedang bicara dengan Azka di tempat yang agak sepi. Cowok yang lebih pendek sedikit dari Daniel itu menatap tajam lawan bicaranya. Meski begitu aku tau justru Azka lah yang sedang merasa terintimidasi dan tatapan itu adalah bentuk perlindungan diri miliknya. Aku mendekati mereka dengan tergesa-gesa, takut hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.

"Dimana Fajar? Kenapa dia gak pernah masuk?"

"Bukan urusan lo!" aku menepis kasar tangan Daniel yang hendak menyentuh kerah Azka. Mereka berdua cukup terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. "Ka, ayo,"

Aku berjalan lebih dulu dengan Azka yang menyusul di belakangku sampai suara Daniel kembali terdengar. "Lo lebih pilih lo yang ngasih tau gue atau gue yang nyari tau sendiri?"

Aku menoleh ke belakang ketika Daniel menatap Azka dengan dingin dan Azka menatapnya dengan sengit. "Gak usah dijawab," ujarku mengintervensi.

Azka tidak menghiraukan Daniel dan kembali menoleh ke depan melanjutkan langkahnya. "Ayo cabut,"

Begitu kami berdua sampai di koridor yang ramai aku sempat memperhatikannya sebentar, memastikan dia baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Seragamnya bersih begitupun kulitnya yang tanpa luka. Namun raut wajahnya yang masih mengeras membuatku menebak dia sedang marah.

"Daniel ngomong apa aja tadi?"

"Bukan apa-apa,"

"Serius?"

"Serius."

"Daniel belum tau kan Fajar kenapa gak masuk sekolah?"

Azka menoleh padaku dan rautnya langsung berubah. Aku mendengus, ia malah menertawakan kekhawatiranku. "Aman, biar gue yang ngurus Daniel."

Aku baru saja ingin meledeknya bahwa tampangnya tidak bisa dipercaya tapi meski Azka kelihatannya tidak bisa apa-apa, memang benar dia yang selalu mengurus segalanya untuk Fajar. Dan aku berterima kasih untuk itu. Akhirnya aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Lo mau bilang apa tadi nyari gue?"

"Oh iya!" aku menepukkan kedua tanganku di depan dada. "Sekolah udah bilang yang di video itu bukan Fajar,"

Azka membulatkan matanya. "Udah fix emang editan?"

Aku mengangguk dengan antusias. "Udah resmi, Fajar gak salah,"

"Aahhh!" Azka mendesah keras sambil mengusap wajahnya sampai beberapa orang menoleh pada kami. Sedangkan aku menertawakannya melihat betapa leganya dia. "Anjing, gue takut banget itu anak di DO,"

Rautnya kini bercampur antara lega, senang dan juga sedih. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Dan sebenarnya lagi, Azka cukup jarang memperlihatkan kekhawatirannya soal Fajar padaku. Dia lebih sering berbicara dengan Stella. Akhirnya aku menepuk-nepuk bahunya dengan keras, ikut merayakan kelegaan ini bersamanya yang masih terlihat kaget dengan berita yang kusampaikan.

Sepulang sekolah, kami bertiga--aku, Azka dan Stella--pergi ke rumah sakit bersama. Sebenarnya ini sudah seperti menjadi jadwal harianku hampir seminggu lebih belakangan ini. Namun sesekali aku pergi bersama Azka dan Stella meski lebih sering sendiri.

Sesampainya di rumah sakit, yang kami cari sedang makan siang di atas ranjangnya, sendirian. Aku tersenyum begitu melihatnya sedangkan ia terlihat senang dengan kedatangan kami bertiga.

𝐀𝐋𝐈𝐕𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang