[Berlatar di Amerika]
Pertemuan tanpa sengaja yang mengantarkan Kylie Stephanie Caldwell pada sebuah kesengsaraan. Penculikan yang terjadi, membuatnya jatuh pada sosok pria dingin yang tak mempunyai hati. Kylie memang dilepaskan. Namun, bukan berart...
Pagi ini, Kylie terbangun dengan seulas senyum di bibirnya. Ia ingat semalam ia tertidur di atas tubuh Fergio, pipinya bersemu merah ketika mengingat kejadian itu.
Saat ia menengok ke arah kiri kasurnya, pria itu sudah tidak berada di sana. Sepertinya ia sudah pergi ke Nevada pagi-pagi sekali.
Kylie menghela napas lega. "Syukurlah, jika dia masih berada di sini, mungkin saat ini suasananya akan terasa canggung," tutur Kylie. Perempuan itu memutuskan untuk mandi sebelum turun ke ruang makan.
🍁🍁🍁
Saat ini, Kylie berada di depan pintu kamar Mark. Perempuan itu merasa bersalah karena telah membentak Mark kemarin lusa. Dan sudah dua hari ini, ia tidak melihat pria itu sarapan.
Awalnya Kylie pikir jika Mark sudah pergi bekerja. Namun, salah satu pelayannya bilang jika tuannya itu belum keluar kamar sejak pagi tadi. Itulah mengapa Kylie memutuskan untuk menemuinya. Ia khawatir jika Mark sakit.
Tak lama kemudian, pintu terbuka menampilkan sosok Mark di balik pintu dengan rambut yang berantakan.
"Mark ... ."
Tanpa sepatah kata pun, Mark kemudian memeluk Kylie membuat perempuan itu sedikit tersentak. Bau alkohol menyeruak dari tubuh pria jangkung itu.
"Mark, kau kenapa?" Kylie berujar lirih dalam dekapan Mark. Ia khawatir akan kondisi pria itu saat ini. Mark tengah mabuk, apakah itu karena dirinya?
"Maafkan aku, Kylie." Mark mengelus rambut Kylie dan mencium puncak kepalanya, pria itu menitikkan air mata.
Mark merasa sangat bersalah karena ia tidak bisa membantu perempuan itu terlepas dari jerat kakaknya.
"Kau tidak bersalah, Mark. Aku yang seharusnya meminta maaf," gumam Kylie seraya melepaskan pelukannya.
Mark segera menghapus air matanya, ia tidak mau Kylie melihat itu. Pria itu kemudian mengajak Kylie masuk ke kamarnya.
Kylie terduduk di atas kasur milik Mark, sementara pria itu berjalan ke arah nakas dan mengambil sesuatu di dalam laci, sebuah dompet berwarna hitam.
"Ambil ini." Mark menyodorkan sebuah kartu yang juga berwarna hitam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kylie menatap takjub pada kartu itu American ExpressCenturion Card, kartu idaman semua orang yang biasa ia lihat dalam sebuah film, saat ini terpampang jelas di depan matanya.
Kylie tidak mengambil kartu itu, ia justru menatap Mark dengan tatapan bingung.
"Ambillah!" Mark mengulang kembali ucapannya sembari menggerakkan kartu tersebut.