Keesokan harinya, Fergio terbangun dari tidurnya. Tapi ia tidak mendapati Kylie di sampingnya, melainkan Mark yang tengah sibuk dengan ponselnya. Ke mana perempuan itu pergi?
"Kakak, kau sudah bangun." Mark memasukkan ponsel ke saku celananya dan mengambil sesuatu di atas nakas. "Ini aku bawakan sup kesukaanmu, makanlah."
"Di mana Kylie?"
"Dia sudah pulang pagi-pagi sekali."
"Pulang ke mana?"
Mark tidak tega untuk mengatakan ini, tapi pada akhirnya mulutnya bersuara. "New York."
Fergio kembali terlihat muram, itu artinya Kylie benar-benar telah mengambil keputusan untuk tetap berpisah dengannya. Kylie datang hanya untuk menghiburnya, bukan menyerahkan dirinya untuk kembali bersama Fergio.
Fergio tersenyum getir memikirkan hal itu. "Mark."
"Iya, Kak?"
"Jika Kylie tetap memilih berpisah denganku, maka kau harus menikahinya. Berikan dia kebahagiaan."
Mark mengerutkan kening, bukankah semalam mereka masih baik-baik saja. Ia bahkan melihat Kylie tertidur dengan nyaman di samping Fergio. "Kenapa Kakak berbicara seperti itu?"
"Kalian saling mencintai, bukan? Ku rasa dia tetap akan memilih berpisah. Aku tidak akan rela jika perempuan berhati malaikat sepertinya akan jatuh ke tangan pria lain. Kau harus menikahinya, Mark."
Tatapan Fergio kembali menerawang, mengingat setiap kejadian singkat bersama Kylie, ciumannya, perlakuan hangatnya, tangisnya, tapi ia tidak pernah melihat senyumannya.
Fergio berharap jika kemarin ia terbangun dengan keadaan hilang ingatan, ia tidak sanggup untuk mengingat hal bodoh yang pernah ia lakukan dan kenangan yang tak bisa ia hindari.
🍁🍁🍁
Beberapa bulan kemudian. Pria itu kembali ke New York untuk menemui Kylie dan menyerahkan surat perceraian, untuk ditanda tangani oleh perempuan itu.
Insiden yang menimpa Fergio mengharuskannya dirawat dan menjalani terapi psikologis beberapa pekan. Serta pengurusan surat perceraian yang membutuhkan waktu cukup lama. Sehingga saat ini mereka masih berstatus suami istri.
Fergio memarkirkan mobil Buggati nya di halaman rumah Kylie. Pria itu turun dari mobil. Ia terlihat menghela napas sebelum akhirnya berjalan menuju rumah sederhana perempuan itu.
Beberapa menit setelah bel rumah ia tekan, pintu pun terbuka menampilkan sosok yang akhir-akhir ini ia rindukan. Kylie, perempuan itu keluar dengan mengenakan gaun dan kacamata hitam. Ia terlihat lebih cantik dari terakhir kali Fergio melihatnya. Apakah dia bahagia tanpa dirinya?
Fergio terpana beberapa detik, hingga ia mendengar dehaman kecil dari perempuan di hadapannya. "Ah, sudah siap?"
"Ya," jawab Kylie singkat.
"Baiklah, kita pergi sekarang,"
Mereka berencana untuk pergi ke makam Albert terlebih dahulu, tentunya atas permintaan Fergio. Ia ingin meminta maaf di pusara Albert-orang yang telah banyak berkorban untuknya.
Fergio membukakan pintu untuk istrinya yang sebentar lagi akan berstatus sebagai mantan. Mobil Buggati itu berlalu meninggalkan halaman rumah Kylie.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Fergio mulai membuka percakapan.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Kylie berucap tanpa menoleh sedikit pun pada Fergio.
Fergio hanya tersenyum mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kylie.
Pria itu pun kembali fokus mengemudi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unhappy Queen [ 18+ END ]
Romansa[Berlatar di Amerika] Pertemuan tanpa sengaja yang mengantarkan Kylie Stephanie Caldwell pada sebuah kesengsaraan. Penculikan yang terjadi, membuatnya jatuh pada sosok pria dingin yang tak mempunyai hati. Kylie memang dilepaskan. Namun, bukan berart...