Asap masih mengepul di ruangan ketika Veúx melangkah masuk. Setiap langkahnya terdengar berat, menyiratkan beban emosional dan tekad baja yang tak bisa digoyahkan.
Zee yang duduk di kursi roda menatapnya dengan mata membelalak, antara kaget dan lega. Tapi bibirnya tak sanggup bersuara.
Bergamo menjentikkan jarinya sekali.
Dua pria bertubuh besar muncul dari sisi ruangan. Pengawal pribadi. Wajah mereka datar, namun penuh kewaspadaan.
Veúx menoleh, melirik mereka sekilas.
“Kau pikir aku datang sendirian?”
Dan seketika itu juga—
Boom!
Sisi tembok markas meledak. Puing beterbangan. Dari balik ledakan, muncul Nicky dan Roul bersama sekelompok kecil orang—grup lama mereka, bersenjata penuh, dengan tatapan tak gentar.
“Maaf telat,” ujar Nicky, memutar tongkat besinya. “Kami baru nemuin jalan rahasia di belakang gunung.”
Roul menyeringai. “Dan kita nggak suka lihat seseorang yang dianggap sebagai saudara dipisahin paksa.”
Bergamo mendecak. “Pikir kalian ini film aksi? Ini rumahku, markasku, dan kalian baru saja menandatangani surat kematian.”
Zee berteriak. “Berhenti! Jangan perang di sini!”
Namun semuanya telah bergerak.
Pengawal Bergamo menyerang, Veúx langsung menyambut dengan sigap. Tinju-tinju, tendangan, hantaman benda keras—semuanya terjadi begitu cepat, bagaikan koreografi pertarungan jalanan yang brutal dan liar.
Nicky melompat ke atas meja, melempar tongkat ke kepala salah satu pengawal. Roul melempar tabung asap tambahan, mengacaukan pandangan semua orang.
Zee hanya bisa menggigit bibir, tak mampu bergerak cepat di kursi rodanya. Tapi matanya terpaku pada Veúx—yang bertarung bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk membawa pulang seseorang yang ia anggap rumah.
Lalu…
Clak!
Suara pistol dikokang.
Bergamo berdiri, mengangkat pistol ke arah Veúx yang sedang berhadapan dengan dua pria sekaligus.
Namun…
Dor!
Satu tembakan lebih cepat. Bukan ke Veúx, tapi ke pistol Bergamo—membuatnya terpelanting dari tangan.
Asap masih menggantung di udara, dan Anak buah Bergamo bersiap dengan senjata di tangan, tapi Veúx tak gentar. Ia berdiri tegak, tatapannya tak lepas dari pria yang kini menggendong Zee.
“Aku tidak akan membiarkan kau membawanya lagi,” desis Veúx, melangkah maju, perlahan namun pasti.
Namun Bergamo hanya menoleh setengah, memeluk Zee lebih erat, seolah-olah menunjukkan: Dia milikku. Bukan milikmu.
Zee yang masih dalam pelukannya menggeliat lemah.
“Veúx…” suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menghentikan langkah sang adik.
Bergamo menoleh pada anak buahnya. “Tahan dia.Jangan lukai…kecuali dia memaksa.”
Beberapa pria bersenjata langsung mengelilingi Veúx. Tapi dia malah tersenyum samar, senyum yang aneh—bukan bangga, tapi seolah… sudah tak punya apa-apa lagi untuk ditakutkan.
Zee yang dipeluk ayahnya hanya bisa menatap Veúx dengan mata penuh luka dan ketakutan.
“Dad… jangan!” teriakannya, suaranya parau.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓
Fiksi RemajaBagaimana jika seorang remaja yang baru saja menginjak kata 'Remaja' nekat kabur dari kekangan keluarganya yang dibilang super overprotektif terhadapnya. Bahkan tak hanya Keluarga, Sepupunya juga ikut overprotektif terhadap dirinya. Ia di jaga oleh...
![𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓](https://img.wattpad.com/cover/295587395-64-k421448.jpg)