Langit mulai mendung saat Veúx menghentikan motornya di tepi danau tua yang sudah lama tak terjamah orang. Tempat itu dulunya sering ia datangi bersama Zee—kakak yang kini tak diketahui keberadaannya.
Suara air yang tenang tak mampu meredakan gelombang emosi dalam dadanya. Ia duduk di pinggir batu besar, membiarkan angin menerpa wajahnya yang basah oleh peluh dan emosi yang bercampur aduk.
Ponsel kembali ia genggam.
"Nomor tidak dapat dihubungi."
Kalimat dingin dari operator seolah menjadi tembok yang menjauhkan harapannya.
"Apa kau sengaja menghilang, kak?" batinnya getir.
Sementara itu…
Di tempat berbeda, di sebuah rumah sakit tua di pinggiran kota, seorang pemuda dengan luka di pelipis dan infus di tangan membuka mata perlahan. Napasnya berat, dan satu-satunya kata yang keluar dari bibir pucatnya—
"Veúx..."
Zee.
Kembali ke Veúx. Pikirannya berkecamuk. Ia berdiri, menendang kerikil ke danau, lalu menarik napas panjang.
Tak lama kemudian, suara sepeda motor terdengar mendekat. Seorang anak laki-laki berambut pirang keperakan menghentikan motornya tak jauh dari Veúx.
"Kau Veúx, kan?" tanya anak itu. Wajahnya asing, tapi sorot matanya tajam, penuh informasi.
Veúx hanya menoleh tanpa menjawab.
"Aku dari pihak yang dulu sering bareng Zee. Namaku Roul. Aku bawa ini."
Ia mengulurkan sesuatu—sebuah flashdisk hitam dan foto lusuh Zee dengan seorang pria paruh baya yang tak Veúx kenal.
"Dia terakhir terlihat di kawasan barat. Tapi habis itu... jejaknya hilang. Ada yang bilang, Zee diculik."
Mata Veúx membelalak. Tangan yang semula gemetar kini menggenggam erat benda itu.
"Apa maksudmu diculik?" suaranya berat.
"Aku nggak bisa cerita di sini. Tempat ini udah gak aman buat siapa pun yang dekat sama Zee."
Roul menyalakan motor lagi, "Datanglah ke alamat ini malam nanti, sendirian."
Ia melemparkan secarik kertas, lalu pergi sebelum Veúx sempat berkata apa-apa.
Malam itu...
Setelah kembali ke mansion dan berpura-pura seperti biasa, Veúx mengunci kamarnya. Ia menatap foto Zee itu lama sekali. Bukan hanya rindu. Ada rasa bersalah, ada pertanyaan, ada kemarahan—dan ada tekad.
"Aku akan cari tahu semuanya, Kak. Dan kalau memang kau sedang dalam bahaya... aku akan datang, walau harus membakar seluruh dunia ini."
Malam merangkak pelan ketika Veúx menyusuri jalanan kota dengan hoodie hitam menutupi sebagian wajahnya. Motor tuanya melaju pelan, berbeda dari biasanya. Tujuannya jelas: sebuah alamat di kawasan barat, tepat di belakang bekas pabrik tekstil yang kini sudah terbengkalai.
Bangunan itu sunyi dan gelap, hanya satu jendela di lantai dua yang memancarkan cahaya redup. Veúx memarkir motor, berjalan pelan sambil mengamati sekeliling.
“Kau datang.”
Roul muncul dari balik pintu besi yang berderit saat dibuka. Ia mengajak Veúx masuk ke sebuah ruangan kecil penuh dengan peta, berkas, dan layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari berbagai titik kota.
“Ini markas kecil kami—sisa dari grup yang pernah dikomandoi kak Zee.” Roul menjelaskan pelan.
Veúx hanya menatap tajam. “Langsung saja ke intinya. Apa yang terjadi dengan kakak?”
Roul mengangguk. Ia menyalakan salah satu rekaman di layar.
Gambar itu memperlihatkan Zee—dua bulan lalu. Ia tengah berbicara dengan seseorang berbadan besar bersetelan jas, wajahnya kabur. Tak lama setelah itu, Zee dipukul dari belakang dan diseret ke dalam mobil hitam tanpa plat nomor.
“Kami sudah coba lacak mobil itu. Tapi setiap petunjuk selalu mengarah ke tempat buntu. Seolah ada yang ingin benar-benar menghapusnya.”
Veúx mengepalkan tangannya.
“Siapa orang itu?”
“Kami belum tahu nama aslinya. Tapi dia sering disebut sebagai Bergamo. Orang dalam dunia bawah yang tidak suka ada yang tahu urusannya. Dan kak Zee... terlalu banyak tahu.”
Veúx terdiam lama. Matanya dingin.
“Dimana markas orang itu?”
Roul menggeleng pelan. “Terlalu berisiko untuk datang langsung. Tapi kami punya satu kesempatan.”
Ia mengeluarkan sebuah undangan: balapan eksklusif ilegal yang hanya diadakan untuk para elite dunia hitam. Pemenangnya akan diundang ke pesta pribadi sang tuan rumah—dan menurut info terakhir, Bergamo akan hadir di sana.
“Kau ingin aku ikut balapan itu?” tanya Veúx datar.
“Bukan hanya ikut. Menang. Itu satu-satunya jalan untuk masuk ke markas mereka dan menemukan keberadaan kak Zee.”
Veúx hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum dingin yang tak menjanjikan ampunan.
“Aku tidak balapan untuk piala. Aku balapan untuk mengubur seseorang hidup-hidup.”
Beberapa hari kemudian…
Latihan dimulai. Veúx kembali ke kebiasaannya—mencoba mesin, mengatur napas, membaca jalur, dan membiasakan diri dengan arena yang akan digunakan. Tapi kali ini, ia tidak sendirian.
Nicky, yang sedari awal tahu bahwa Veúx menyimpan banyak hal, datang dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Lo yakin mau ngelakuin ini sendirian?” tanyanya.
“Sejak awal, gue selalu sendirian.” jawab Veúx pelan.
“Tapi kali ini, lo nggak perlu sendiri.”
Veúx menatap Nicky. Lalu... untuk pertama kalinya sejak lama, ia mengangguk pelan.
Satu malam sebelum balapan.
Veúx duduk di kursi tua di markas Roul. Ia memutar kembali pesan suara terakhir dari Zee—sebuah suara lama yang belum pernah ia dengarkan dengan benar sebelumnya.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan cari aku. Tapi kalau kau tetap keras kepala… pastikan kau siap kehilangan segalanya, Veúx.”
Tangan Veúx mencengkram kuat ponselnya. Ia memejamkan mata.
"Gue udah kehilangan separuh dunia gue. Sekarang, tinggal sisanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓
Teen FictionBagaimana jika seorang remaja yang baru saja menginjak kata 'Remaja' nekat kabur dari kekangan keluarganya yang dibilang super overprotektif terhadapnya. Bahkan tak hanya Keluarga, Sepupunya juga ikut overprotektif terhadap dirinya. Ia di jaga oleh...
![𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓](https://img.wattpad.com/cover/295587395-64-k421448.jpg)