•extra part³

372 18 2
                                        

Malam pertandingan akhirnya tiba.

Sorak sorai, cahaya neon, dan derungan mesin memenuhi arena bawah tanah yang tersembunyi di balik pegunungan sisi barat kota. Suasananya lebih menyeramkan daripada glamor—karena semua orang tahu, di balapan ini, yang kalah bukan hanya kehilangan uang… tapi bisa kehilangan nyawa.

Veúx berdiri di samping motornya, mengenakan helm gelap. Nicky, Roul, dan dua orang dari grup lama Zee menatapnya dari kejauhan, menaruh harapan, juga rasa cemas yang mendalam.

“Kau siap?” tanya Roul.

Veúx tidak menjawab. Ia hanya menyalakan motornya. Deru mesinnya menjawab segalanya.

Satu... dua... GO!

Motor melesat seperti peluru. Para penonton bersorak liar. Tapi Veúx tak memikirkan mereka. Pandangannya tajam. Ia hanya melihat satu tujuan: menang dan menemukan Bergamo.

Putaran pertama selesai.

Putaran kedua, dua pesaing sudah tumbang—terlindas jebakan jalanan.

Putaran ketiga, Veúx sempat tergelincir namun kembali bangkit, menggigit gigi dan memacu lebih kencang.

Dan pada akhirnya…

Veúx menang.

Sorak sorai meledak. Tapi bagi Veúx, ini baru awal.

Di balik layar, seseorang berdiri menatap hasil pertandingan. Sosok lelaki besar bersetelan gelap, wajahnya dingin, penuh luka masa lalu. Di tangannya, segelas anggur merah tak tersentuh.

“Veúx, ya…” gumamnya.

Asistennya mendekat, membisikkan sesuatu.

“Dia… adik dari Zee, tuan muda sendiri yang menganggapnya adik.”


Mata Bergamo memicing. Ia tertawa pelan—penuh getir.

“Jadi adik dari anak yang amat kucintai, dan sekarang kuculik kembali.”




Markas Bergamo – Ruang VIP

Veúx masuk dengan tubuh penuh debu, namun langkahnya masih tegap. Ruangan itu sunyi. Hanya ada satu pria duduk tenang di kursi utama.

Bergamo.

“Selamat datang,” ucap pria itu.

“Dimana kakakku?” tanya Veúx langsung, dingin dan tajam.

Bergamo tersenyum kecil, lalu berdiri. Ia membuka sebuah pintu kecil di belakang ruangan. Dari dalamnya, terdengar suara kursi roda didorong keluar.

Zee.

Lemas, tapi masih hidup. Ada perban di dahinya, matanya sedikit sayu… namun ia menatap Veúx dengan pandangan yang sulit dijelaskan—antara lega dan takut.

Veúx langsung maju. “Kak—!”

Namun langkahnya dihentikan oleh suara Bergamo.

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Dia di sini bukan karena diculik. Dia… kembali ke ayah kandungnya.”

Hening.

Veúx menatap Zee. Tapi Zee justru menunduk, diam.

“Ayah… kandungnya?” suara Veúx bergetar.

“Benar.” Bergamo mendekat. “Aku adalah ayahnya Zee. Dia bukan anak buangan, dulu aku menitipkannya pada poix. Dia dititipkan karena keluargamu tahu siapa aku. Tapi sekarang… saatnya ia kembali padaku.”

Deg.

Seluruh dunia Veúx seolah berhenti. Ia menatap Zee dengan tatapan terluka.

“Kenapa… kakak gak pernah bilang?” suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

Zee akhirnya membuka suara, lemah.

“Karena aku takut… kalau kamu tahu, kamu bakal benci aku.”

Veúx diam. Dunia seperti berputar lambat di sekelilingnya. Ia menatap Bergamo dengan tatapan yang sekarang berbeda—bukan hanya dendam, tapi juga rasa kehilangan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,








Langit malam menggantung kelam. Petir menyambar dari kejauhan seakan mencerminkan perasaan Veúx saat ini—penuh badai.

Ia masih berdiri di depan Zee. Tatapannya menusuk, namun bukan dengan kebencian—melainkan dengan kekecewaan yang mendalam.

“kakak tahu aku nyari kakak ke mana-mana, kak.” Suaranya serak. “kau tahu kan?”

Zee mengangguk pelan, tapi tetap menunduk.

Bergamo menyela. Suaranya berat dan tenang.
“Dia memilih untuk diam karena aku suruh begitu. Aku tak ingin kau datang sebelum waktunya, Veúx.”

“Waktunya?” Veúx menatap tajam. “kau pikir kau siapa main-mainin hidup orang?”

Bergamo maju perlahan, namun dengan aura yang berat.
“Aku bukan main-main. Zee adalah darah dagingku. Dia dibesarkan oleh orang lain, tapi dia tetap anakku. Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku.”

Zee menggenggam erat roda kursinya.
“Sudah cukup, Dad…”

Veúx terdiam sejenak.
“Kak…” suara Veúx mulai parau, “…kakak serius... mau ninggalin semuanya buat orang yang dulu buang kakak?”

Zee menatap langsung ke arah adiknya.

Dan senyuman itu muncul—sedih, letih, sekaligus pasrah.
“Aku gak pernah milih, Veúx. Aku dibawa ke sini. Tapi... aku gak kuat buat kabur lagi. Orang ini... dia bukan sekadar ayah kandung.”

“Dia ancam hidup banyak orang yang kita sayang.”

Veúx mencengkeram helm di tangannya hingga suara retakan terdengar.

“Kenapa lo gak bilang dari awal?”

“Karena aku gak pengen lo ikutan hancur…”

Hening. Sangat hening.

Hanya terdengar suara detak jarum jam dan rintik hujan yang mulai membasahi atap.






Beberapa Hari Kemudian…

Veúx tak kembali ke mansion.

Ia menghilang.

Peux, Nicky, bahkan teman-temannya tak tahu ke mana ia pergi. Yang mereka tahu hanya satu: Veúx sedang dalam pertempuran paling besar dalam hidupnya—melawan dirinya sendiri.

Sementara itu di markas Bergamo, Zee tetap berada di sana. Setiap malam ia mengintip layar ponselnya… menunggu nama "Veúx" muncul di layar. Tapi nihil.

Namun pada suatu malam...

Brakkk!

Pintu markas didobrak. Asap menyebar ke seluruh ruangan.

“VEÚX!!”suara Bergamo menggelegar.

Dan dari balik kabut, muncullah seseorang…

Jaket kulit hitam.

Tatapan dingin.

Motor yang masih panas di belakangnya.

Veúx.







“aku datang bukan buat balas dendam…”** katanya lirih.
“…tapi buat ambil kembali kakakku.”

Bergamo tertawa kecil, namun tak ada kesenangan di sana.

“Kalau kau mau mengambilnya… maka kau harus siap kehilangan lebih banyak.”

Veúx menatap tajam.

“Asal kau tahu, aku udah kehilangan dari awal.”






𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang