Extra Chapter

9.6K 250 12
                                        

Happy reading

Jan lupa follow Instagram @alvnnqzlxsr_ @alvinna_qz.sar dan @alq_sarlasar
Dan juga follow akun tiktok Al ya @alv_sar

"Bukan sebuah kenangan
Melainkan genangan
Hanya sekelebat bayangan
Yang membuat Kehilangan"

~Sar

~~SARLA~~

Angin berhembus kencang membuat dedaunan kering terjatuh menghantam tanah, langit yang terlihat murung dengan awan abu abu yang menutupi sang mentari, serta suara petir yang beberapa kali menggelar terus menghiasi langit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Angin berhembus kencang membuat dedaunan kering terjatuh menghantam tanah, langit yang terlihat murung dengan awan abu abu yang menutupi sang mentari, serta suara petir yang beberapa kali menggelar terus menghiasi langit.

Sarla berjalan pelan di antara makam makam yang berjejer rapi, tangan nya memegang sebuket bunga mawar hitam dan mawar putih, tangan nya bergerak menggeser pagar yang menjadi batas antara makam umum dan makam pribadi.

Sarla menghentikan langkahnya di salah satu makam yang terlihat masih basah. Ia menatap nisan yang bertuliskan nama lengkap Elgara disana.

Sejenak ia menghela nafas nya, lalu pandangan nya mengelilingi setiap makam yang ada disana.

Pertama makam Elgara, lalu di atas lahan kosong disamping makam Elgara ada makam Ayah nya Andra Alexandra lalu di Samping nya ada makam bunda nya, lalu di bawah makam bunda nya tepat disamping lahan kosong ada makam kembaran nya Elo-Xander dan di samping nya ada makam Abang dokter nya Alvano. Di tengah tengah malam Elo-Xander dan Elgara, di bawah makam ayah nya, tepat di lahan kosong, itu untuk pemakaman nya kelak ketika tuhan sudah rela mengambilnya dari dunia yang menurut nya sangat kejam.

"Halo Leo"sapa Sarla saat dirinya sudah duduk disamping makam Gara yang terdapat tembok kecil untuk duduk disana.

Sarla mengusap nisan Gara dengan pandangan yang tak pernah lepas dari makam Gara.

"Gimana kabar kamu?"tanya Sarla serak.

"Udah gak sakit lagi ya?"kembali Sarla bertanya tanpa ada jawaban, hanya segelintir angin yang terus menghembus menerpa wajah nya.

"Bentar lagi baby twins lahir, doain ya semoga baby twins lahir dengan selamat dan sehat, kamu bisa lihat dari atas sana kalo baby twins lahir"

"Mereka pasti bangga punya Ayah hebat seperti kamu Gara"ucap Sarla tulus.

"Sakit Gara, ketika harus merasakan kehilangan untuk keberapa kali apalagi dalam kondisi seperti ini, berat rasanya"

"Tapi aku tau aku kuat, hingga semesta tak pernah terima jika aku bahagia. mungkin sebentar lagi bahagia ku datang saat baby twins telah lahir ke dunia dan membuat warna baru disana"

"Gara bahagia disana, tunggu aku ya"

Sarla mengangkat wajahnya, tak lagi menatap Gara tapi menatap makam Xander di sebrang sana.

"Pada Akhirnya hati ku seperti sebuah kutukan, setiap cinta datang, maka orang yang ku cintai mati di tangan semesta dengan keadaan mengenaskan, antara sakit dan dibunuh. Apakah diriku terlalu berdosa untuk mendapat sebuah kebahagiaan sehingga Tuhan saja tak rela melihat ku bahagia"

"Bukan Tuhan yang salah tapi kamu yang terlalu jauh pada nya"Suara itu muncul berhembus terbawa angin tepat di samping telinga Sarla.

Sarla menoleh kesana kemari tapi tak mendapatkan apapun, sejenak ia merinding tapi ia menepis rasa itu. Lalu ia kembali menatap makam Gara.

"Aku ikhlas tapi aku rindu"

Bukan, bukan ikhlas melainkan terbiasa, dari terpaksa lalu terbiasa.
Saking terbiasa nya, hati nya seperti kebas, mati rasa.

Jangan mau menjadi Sarla, apalagi hanya karena harta dan cowo ganteng di sekitar nya. Dia hanya gadis malang yang kehilangan orang tuanya sehingga menjadi kejam dan memilih menjauh dari Tuhan nya, diselimuti dendam yang membawa nya semakin kelam, tenggelam dalam kegelapan tak berujung.
Dia Sarla kehilangan sudah menjadi hal biasa bagi hidup nya, tapi hati dan raga nya yang tak terbiasa hanya terpaksa sampai terasa mati rasa.

Sebenarnya tanpa ada dendam dalam dirinya, ia bisa bahagia hanya harus merelakan dan mengikhlaskan saja, ia bisa bersikap tidak peduli dan bodo amat, tapi ia terlalu tenggelam dalam rasa sakit hingga membuat kebencian yang begitu mendalam, hingga merusak hidup nya dengan musuh dimana mana.

Ini bukan akhir karena ada kisah baru yang di mulai karena nya. entah rasa sakit atau dendam mana yang menunggu mereka yang akan datang setelah nya.
Kita hanya bisa diam menunggu kisah itu muncul kembali dengan mereka yang membawa misteri.

Bayangan putih berdiri di belakang Sarla, tangan nya terulur menyentuh kepala Sarla yang hanya terasa angin semata.

"Terima kasih"

Bisikan itu terdengar tepat di sebelah telinga Sarla terbawa oleh angin yang berhembus lembut menerpa wajah dan rambut nya. Membuat nya menoleh tapi hanya angin yang di dapat nya.

Senyum kecil terbit di bibir nya ia memandang semua makam yang ada disana, lalu berbisik lirih.

"Tunggu sebentar lagi"

~~SARLA~~

Tunggu Al di cerita selanjutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tunggu Al di cerita selanjutnya


Sel
15 Mar 22

SARLA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang