"End"

8.8K 243 20
                                        

Happy reading

Follow Ig: @alvnnqzlxsr_
                    @alvinna_qz.sar
                    @alq_sarlasar

Tiktok: @alv_sar

"Kejadian ini sudah berulang kali aku rasakan tapi mengapa rasanya tetap menyakitkan?"

~Sarla

~~SARLA~~

~~SARLA~~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







Cklek

Sarla dan yang lainnya menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, degup Jantung mereka sama sama berdetak kencang ketika melihat raut dokter Arvan yang terlihat seperti keputus asaan tapi memaksakan untuk tersenyum.

"Dokter gimana dengan keadaan anak Saya?"tanya Vania penuh raut ke khawatiran.

"Elgara harus segera menjalankan operasi untuk mengangkat tumor nya segera, karena jika di biarkan Tumor nya akan semakin membesar dan bisa menyebabkan Elgara kehilangan ingatan nya secara permanen bahkan bisa saja kehilangan nyawa nya. operasi kali ini yang menentukan hidup Elgara, jadi segera tandatangi surat persetujuan keluarga untuk menjalan kan operasi jika Keluarga pasien setuju untuk menjalankan operasi"ucap Dokter Arvan sembari menyerahkan sebuah berkas pada Sarla.

Sarla menerima nya dengan gemetar, ia menatap Vania dengan mata berkaca-kaca.
Vania mengangguk sembari mengelus pundak Sarla.

Sarla segera menandatangani berkas nya, ia menatap berkasnya lama sebelum menyerahkan nya pada Dokter Arvan.

"Baik akan kami persiapkan untuk operasi segera"ucap Dokter Arvan tegas.

"Dokter boleh saya lihat suami saya?"tanya Sarla.

"Boleh, tapi untuk kenyamanan pasien hanya dua orang yang boleh masuk"ucap Dokter Arvan Sebelum pamit Pergi untuk menyiapkan ruang operasi.

"Kamu masuk temenin Sarla"ucap Reyhan sembari mengelus pundak Vania yang diangguki Vania.

Sarla menarik nafasnya sebelum mulai membuka pintu dengan perlahan dan membiarkan Vania masuk terlebih dahulu disusul dirinya.

Vania membekap mulutnya, hatinya terasa remuk, hati ibu mana yang tidak sakit ketika melihat anak nya terbaring lemah di brangkar rumah sakit dengan banyak alat yang tertempel di tubuh nya.

Sedangkan Sarla masih berdiri di samping pintu sembari membekap mulutnya menahan Isak tangis agar tak keluar.

"Gara"panggil Vania dengan suara bergetar mendekat kearah Gara.

Gara membuka matanya perlahan, dan menoleh ke arah Vania sembari tersenyum lemah dengan bibir pucat nya, ia berkata lirih di balik masker oksigen yang menutup mulut dan hidungnya "mama".

SARLA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang