(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eh?"
Rhea menghentikan langkah.
"Kenapa, Rhea?" Tanya Bu Marin--pembina asrama putri--yang tadi menyuruh Rhea untuk ikut mengambil barang di gudang dekat dengan gimnasium. "Ada apa? Kamu lihat apa?" Tanyanya penasaran.
Kepala Rhea menoleh pada Bu Marin, menggeleng, lalu tersenyum kecil. "Ah, itu tadi..."
"Apa?"
"Ibu gak lihat ada yang masuk ke area belakang asrama putri tadi?" Rhea menunjuk jalan menuju asrama terbengkalai di belakang asrama putri.
Bu Marin menoleh sebentar pada tempat yang ditunjuk Rhea, kemudian menggeleng. "Enggak. Udah ah, gak usah aneh-aneh kamu! Ayo, cepat masuk!"
Rhea mengangguk patuh, mengikuti langkah Bu Marin masuk menuju asrama putri. Ditaruhnya kardus berisi barang yang diambilnya di gudang tadi. "Udah 'kan, Bu?" Tanya Rhea.
"Hm." Wanita berumur 30 tahunan itu menekuk tangan di pinggang. "Dengar Rhea, kamu jangan sekali-kalinya masuk ke asrama tua di belakang! Saya yakin kamu sudah mendengar ini dari yang lain."
Rhea mengangguk. Larangan untuk memasukki asrama tua itu memang sudah tersebar ke mana-mana. Hal itu sudah jadi rahasia umum. Banyak yang mengatakan jika asrama itu banyak hantunya.
"Emang kenapa dilarang ya, Bu?" Rhea hanya ingin mendengar penjelasan dari orang yang sudah lama menetap di sekolah ini.
Bu Marin menghela napas. "Di sekolah ini lebih banyak larangannya, dibandingkan hal yang diperbolehkan. Jadi jangan tanya alasannya apa. Sana, kamu masuk lagi ke kamar kamu. Terima kasih untuk bantuannya."
"Sama-sama, Bu."
Bu Marin masuk ke dalam ruangan khususnya di lantai satu, meninggalkan Rhea yang masih terdiam cukup lama di tempat. Ingatan Rhea kembali pada kejadian tadi, saat dia melihat sosok perempuan berseragam khas SMA Praba masuk ke area asrama tua itu. Rambutnya diikat kuda dengan jepit rambut untuk mencapit poni. Perempuan itu mirip dengan ciri-ciri yang disebutkan sosok hantu pria tua memegang sapu yang Rhea temui saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Mungkin kah itu, Viya?
"Kalau Bu Marin gak bisa lihat, berarti kemungkinan Viya itu hantu juga?" Rhea bertanya pada dirinya sendiri sambil mengayunkan langkah menuju kamar. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba saat melihat sosok Viya berdiri di halaman asrama putri.
Viya melambaikan tangan, seolah mengajak Rhea untuk mendatanginya. Raut wajahnya terlihat sedih, tubuhnya berbalut seragam yang sudah lusuh.
Kaki Rhea perlahan mengayun, membuka pintu asrama yang belum sempat Bu Marin kunci, lalu berjalan mengikuti Viya. Rhea digiring menuju asrama tua di belakang sana. Tak ada rasa takut, Rhea terbiasa dengan makluk-makhluk tak kasat mata itu jika memang harus melihatnya di dalam sana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.