(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rhea tidak menyangka akan terjebak dalam hubungan dan cinta rumit bersama laki-laki bernama Nagara yang hilang entah ke mana.
Terhitung, sudah satu bulan sejak Rhea mendapati kabar jika Nagara pindah ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi.
Ya, tidak ada kabar. Tidak ada infomasi mengenai Nagara. Bahkan, ketiga sahabat Nagara pun sama sekali tidak dapat menghubungi atau tahu kondisi Nagara sekarang ini. Apakah Nagara sudah sadar dari komanya? Tidak ada yang tahu.
Apakah Rhea menunggu? Tentu saja. Sampai kapan? Entah, mungkin sampai Rhea benar-benar lelah menunggu.
Namun, satu yang Rhea yakini, bahwa Nagara akan kembali padanya lagi. Meskipun di lubuk hatinya Rhea memiliki keraguan akan hal itu.
"Rhe," Dona memanggil. Rhea yang tengah menatap keluar jendela, menoleh.
"Kenapa, Don?"
"Kami mau ke kantin, lo mau ikut?"
Dona bertanya seperti ini bukan tanpa alasan, setelah kejadian itu, setelah Nagara menghilang, Rhea lebih suka menyendiri dan irit bicara. Senyumnya hilang. Rhea bukan lagi Rhea yang dulu begitu periang.
"Enggak deh. Kalian aja gak apa-apa."
Dona sudah menduga jawaban itu, ia hanya mengangguk.
"Gak mau nitip, Rhe?" Luna bertanya.
Rhea menggeleng. "Makasih udah nawarin."
"Oke." Luna tersenyum singkat.
Siera, Luna, dan Dona lalu pergi keluar kelas dengan langlah santai. Lorong kelas tampak ramai, mungkin karena ini jam istirahat.
"Gue kangen deh, Rhea yang dulu..." Dona berkata pelan sambil memainkan ujung bajunya.
Mendengar hal itu, Siera dan Luna mengangguk membenarkan.
"Gue juga. Sampai kapan ya, Rhea bakalan kayak gitu? Sampai kapan Rhea bakalan nunggu Kak Gara yang belum tentu balik lagi?" Luna bertanya pada kedua temannya.
Siera menghela napas berat. Tangannya menepuk punggung Luna menenangkan. "Rhea pasti balik lagi kayak dulu. Sampai kapannya, kita gak ada yang tahu. Cuman Rhea yang bisa melepaskan semuanya kalau dia siap nantinya. Kita di sini, doain dia aja, semoga dapat jalan yang terbaik." Siera bisa disebut irit dalam berbicara, tetapi sekali berbicara, omongan Siera akan sangat menenangkan.