(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini aneh.
Rhea merasa aneh dengan situasi saat ini. Setelah seminggu berlalu terhitung saat Rhea dan Nagara membuka pintu nomor 9 itu, Rhea tidak bermimpi lagi. Biasanya, jika misi belum terselesaikan, mimpi buruk itu akan terus muncul menghantui Rhea sampai susah untuk tertidur kembali.
Rhea tiba-tiba terpikirkan mengenai kejadian ketika sosok penghuni nomor 9 yang tiba-tiba mencekik Langit. Gadis itu lalu menoleh ke belakang, tepatnya ke tempat Langit biasanya duduk.
Tidak ada Langit di sana.
"Ke mana tuh cowok?" Rhea bergumam refleks.
Luna yang merupakan teman sebangku Rhea, menoleh bingung. "Siapa maksud lo?"
"Langit." Luna ikut menoleh ke arah bangku Langit, lalu menaikkan bahu enteng. "Tadi pagi perasaan dia masuk deh."
"Bolos kali?"
Rhea terdiam sejenak.
"Emang kenapa? Tumben lu nyariin?" Luna bertanya.
Kepala Rhea menggeleng pelan, lalu menatap ke depan lagi mendengarkan guru. Tetapi anehnya Rhea tidak bisa fokus, perasaannya mendadak tidak enak.
"Kayaknya ada yang gak beres.."
"Hah?" Luna samar mendengar gumaman Rhea. Ia semakin bingung saat Rhea tiba-tiba mengangkat tangan.
"Bu, saya izin ke toilet!"
Guru matematika yang tengah mengajar itu mempersilahkan. Rhea dengan langkah cepat berjalan menuju kelas Nagara yang ada di lantai dua. Begitu sampai di sana, Rhea melihat Nagara tengah sibuk belajar kelompok dengan teman-teman lainnya. Rhea tidak enak hati untuk mengganggu kegiatan laki-laki itu, lagi pula dugaannya belum tentu benar.
"Gue cek sendiri aja deh," putus Rhea lalu pergi dari sana.
Gedung utama sekolah cukup jauh keberadaannya dengan kolam renang yang letaknya dipaling ujung sekolah. Pintu kaca yang membatasi antara area luar dari kolam renang terlihat terbuka, Rhea yakin di dalam sana ada seseorang meskipun jam pelajaran sedang berjalan seperti ini, mungkin salah satunya ada Langit.
Rhea bingung, kenapa dia tiba-tiba terpikirkan Langit dan khawatir dengan kondisinya? Seolah ada sesuatu yang menggerakkan dirinya untuk segera mencari keberadaan laki-laki itu.
"Eh, Sorry..." Rhea menghentikan seseorang yang hendak berenang, kalau tidak salah orang itu satu angkatan dengannya.
"Iya, kenapa?"
"Ada Langit gak?" Tanya Rhea.
Laki-laki itu berpikir sejenak. "Gak ada deh. Hari ini dia bilang mau masuk kelas karena minggu depan ujian."
"Serius?"
Dia mengangguk. "Emang dia gak ada di kelas? Bukannya lo satu kelas sama dia?"
Rhea hanya mengangguk, kemudian pamit. Kini ia semakin yakin, jika Langit datang ke asrama tua itu sendirian. Karena memang beberapa hari ini Rhea sering mendengar Langit sering sekali bertanya soal asrama tua itu pada teman sekelasnya yang lain. Mungkin Langit berpikir, dengan mendatangi langsung gedung itu akan menjawab semua tanda tanyanya.