(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
"Gue telepon lagi kalau gitu," ujar Nagara kemudian membuka ponsel lagi, segera dia menelepon Zidane. Tak lama Zidane mengangkat.
"Bro!"
Suara Zidane bukan berasal dari telepon, tetapi dari arah pintu masuk menuju gedung asrama tua itu. Zidane mengangkat tangan menyapa, bibirnya nyengir ke arah Nagara.
"Orang gila!" Nagara mematikan sambungan telepon, lalu menghampiri Zidane. "Lo ngapain bawa yang lain, nyet?!"
Rhea yang juga ikut kebingungan ketika melihat teman-temannya bersama Zidane pun bertanya. "Kalian kok ke sini?"
Dona menjawab sambil menguap. "Tahu dah. Kak Zidane tiba-tiba telepon katanya ada perkumpulan club, padahal gue udah beres-beres mau tidur."
Mendengar hal itu, Rhea menatap tajam Zidane. "Kak Zidane kalau takut sendiri jangan ajak-ajak orang dong!" Sebal Rhea.
"Selesai mata lo!" Nagara menonyor kepala Zidane gemas.
Bukan apa-apa, hanya saja Nagara tidak ingin teman-temannya terlibat dengan asrama tua ini. Hal yang masih semu dan entah ujungnya seperti apa. Dengan bertambahnya Rhea sudah cukup bagi Nagara. Awalnya Nagara tidak ingin orang lain bernasib yang sama seperti dirinya yang terus diteror mimpi buruk itu, namun Nagara sadar jika dia butuh teman, dia tidak bisa menyelesaikannya sendiri.
"Jadi gimana nih sistemnya?" Alfa bertanya. Nafi ada di samping Alfa sedang membalas pesan.
Nagara hanya bisa menghela napas pasrah. Dia memijat pangkal hidungnya sejenak, kemudian menjelaskan seluruhnya pada teman-temannya. Mulai dari sepuluh kamar terlarang di dalam asrama tua, mimpi buruk yang sering Nagara dan Rhea alami, hingga hal apa yang selama ini Nagara dan Rhea lakukan. Semua itu diceritakan Nagara juga dibantu Rhea. Jelas teman-temannya yang mendengar itu tercengang dan nyali mereka mulai menciut. Apalagi saat Nagara menceritakan berbagai hantu yang ada di dalam kamar asrama itu.
Luna menelan salivanya susah payah. "Serem juga ya..." cicitnya.
"Pulang yuk!" Ajak Siera. "Besok ada ulangan harian matematika, kan?"
"Enggak ada tuh," balas Dona yang pinggangnya langsung dicubit oleh Siera.
"Ih, Dona!"
"Itu kenapa gue gak mau kalian tahu ini. Gue takut kalian juga kena terornya." Ujar Nagara dengan menatap satu persatu temannya. "Jadi kalau kalian mau mundur, mending mundur dari sekarang. Gue gak keberatan kok kalau kalian mau mundur. Yang mau mundur angkat tangan aja,"
Suasana hening. Tak ada satu pun orang yang bersuara, suara jangkrik saja saling bersahutan di malam ini.
Luna, Dona, dan Siera saling pandang. Sementara Zidane, Nafi, dan Alfa sudah memantapkan diri untuk tidak unjuk tangan, mereka ingin menemani Nagara, sahabat mereka.