(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa jam yang lalu...
Muak. Itu yang Nagara rasakan sekarang. Nagara muak dengan segalanya, bahkan dirinya sendiri. Senyum palsunya, sikap sok kuatnya, dan acara meriah di hotel bintang lima ini. Tidak ada yang lebih memuakkan daripada hari ini. Semuanya tampak palsu bagi Nagara.
Nagara rasanya ingin melarikan diri. Ingin berteriak menyuarakan kekesalannya pada dunia. Nagara ingin ada seseorang berada dipihak yang sama dengannya, menolongnya, mendengarkannya, memberi sandaran, dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja ke depannya. Nagara ingin...dihibur seseorang.
Namun, lagi-lagi yang bisa Nagara lakukan hanya tersenyum palsu. Menyapa setiap orang yang tidak ingin dia lihat.
"Oh, ini Nagara?" seorang wanita berumur akhir 30-an menyapa Nagara yang berdiri di dekat sebuah meja yang penuh dengan makanan mewah.
"Iya, Tante." Nagara tersenyum, yang pasti palsu. Kalau tidak salah ini saudara jauh dari Papanya.
"Aduh, sudah besar aja kamu! Rasanya baru kemarin saya lihat kamu main-main di rumah Tante." Nagara hanya tersenyum kaku. "Kamu pasti bahagia punya Mama baru yang baik dan cantik seperti Saniya, ya? Beruntung sekali kamu!"
Beruntung? Haruskah Nagara sebut ini sebuah keberuntungan? Wanita selingkuhan yang merebut Papa dari Mamanya itu, haruskah Nagara syukuri keberadaannya?
"Saya permisi Tante." Pamit Nagara meninggalkan wanita itu dan juga meninggalkan pesta pernikahan megah milik Papanya.
Nagara berjalan keluar hotel, mencari tempat tersepi di sana. Dia duduk di sebuah kursi taman hotel, jaraknya cukup jauh dari keramaian. Suasananya tenang. Ini lebih baik beribu kali lipat dari pesta tadi. Setidaknya, di sini Nagara bisa menghela napasnya dengan tenang. Dadanya tidak sesesak tadi.