(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Nagara, lo suka sama siapa sebenernya, Rhea atau Shea seperti yang lo bilang dulu?"
Pertanyaan Alfa menghentikan pergerakkan tangan Nagara di ponselnya. Dia lantas menoleh. "Maksud lo?"
Alfa duduk di ranjang Nagara yang letaknya berdekatan dengan kursi belajar yang tengah Nagara duduki saat ini. "Come on, Ga. Lo gak sebego itu buat gak ngerti masalah kayak gini?"
Nagara menggulir bola matanya, menatap layar ponselnya lagi. Tetapi tetap saja fokusnya kini sudah pecah semenjak Alfa bertanya seperti itu padanya tadi.
"Iya, Ga. Gue rasa lo suka sama Rhea. Lo gak nyadar atau pura-pura gak sadar?" Zidane menimpali.
Nagara terdiam.
"Apa perlu kita buktiin kalau lo emang suka dia? Siapa tahu lo gak sadar gitu,"
"Seorang Nagara gak suka kebisingan dan keramaian, tapi kemarin dia rela desak-desakkan nonton acara musik buat bisa diem di samping Rhea." Kali Ini Nafi yang berbicara.
"Nagara juga gak mungkin sekhawatir itu ngelihat cewek tenggelam sampe hampir nangis." Zidane menambahkan.
"Nagara juga gak mungkin rela ninggalin pelajaran cuman buat beli jus alpukat."
Nagara menggulir ponselnya tak tentu. Dia mendengarkan betul ucapan teman-temannya. Hatinya sedikit tersentil mendengar itu. Dia telah melakukan banyak hal yang benar-benar di luar kendalinya.
"Ga," Zidane menaruh gitar kesayangannya, kemudian fokus pada Nagara. "Lo suka Rhea, kan?"
Hening beberapa saat, sebelum Nagara menjawab. "Gue gak tahu."
"Gue yakin lo tahu. Cuman lo lagi bingung sekarang."
Alfa mengangguk setuju. "Apalagi Rhea, dia pasti lagi bingung sama sikap lo sekarang."
"Dari awal lo bilang suka sama Shea. Jadi untuk sekarang lo pasti bingung kenapa perasaan lo berubah ke Rhea. Lo pasti mikir, sebenernya lo baik ke Rhea karena apa. Apa sekedar kasihan atau Rhea kembaran Shea, kan?"
Nagara akhirnya menaruh ponsel di atas meja belajar sambil memutar kursi menatap teman-temannya. "Menurut kalian kenapa gue baik sama dia? Karena Rhea kembaran Shea? Bukan."
Laki-laki itu memberi jeda.
"Saat gue lihat Rhea buka pintu itu pertama kali, di situ gua dejavu. Gue inget kelakuan gue dulu dengan bodohnya buka pintu itu. Pintu itu juga yang mengantarkan gue dalam teror yang gak berujung, dan gue yakin Rhea pasti bakalan ngalamin hal yang sama kayak gue. Dulu, waktu gue kena teror pertama kali, gue ketakutan, gue sendirian. Gue gak punya siapa-siapa buat cerita atau bantu gue. Itu kenapa gue baik sama dia. Gue gak mau dia rasain yang sama seperti gue dulu. Seenggaknya, dengan adanya teman cerita atau mengadu, yaitu gue, dia bisa merasa kalau dia gak sendirian. Ada gue."