Bagian 42 : Chance

6.2K 791 30
                                        

Disarankan pakai mode terang🌟 dan jangan lupa play video di atas ya!😉
Selamat membaca🥰💓

Angin berhembus dari arah jendela kelas, menerpa wajah Rhea yang tengah menikmati lagu melalui earphone

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angin berhembus dari arah jendela kelas, menerpa wajah Rhea yang tengah menikmati lagu melalui earphone. Gorden tipis berwarna putih di sisi jendela berayun terbawa angin, mengikuti irama angin yang kecepatannya lebih besar dari siang sebelumnya.

Kelas tampak sepi, hanya ada beberapa orang saja di sini, termasuk Rhea. Gadis dengan surai hitam itu tampak tenang menjatuhkan kepalanya di meja. Sebuah lagu mengalun di telinga, namun mendengar lirik yang dibawakan, membuat Rhea memutar kejadian semalam dengan Nagara di asrama tua.

Sebenarnya kita apa?

Saling mencinta

Tapi tak saling memiliki

Inginmu begini.

Sebenarnya untuk apa?

Kau memilihnya

Tapi kau enggan melepasku

Dengan harapan yang semu.

Rhea teringat perkataan Nagara terakhir kali.

"Gue takut banget... Lo ninggalin gue gitu aja."

Hatinya bertanya, "sebenarnya hubungan kita apa, Kak?"

Kita terlalu peduli untuk hanya sekedar teman. Kita terlalu mencemaskan untuk hanya sekedar kenalan. Jadi kita itu apa?

Lamunan itu terhenti saat seseorang menarik earphone putih milik Rhea dari telinga. Rhea mengangkat kepala, menatap sang pelaku yang kini tengah tersenyum kepadanya.

"Lo lagi apa di sini?" tanya Langit, menggunakan setelah olahraga.

"Oh, Langit... gue kira siapa," Rhea mematikan musik di ponselnya. "Lagi nungguin temen-temen gue ganti baju di toilet."

Langit menatap seragam sekolah yang masih melekat di tubuh Rhea. "Lo gak ganti baju?"

"Gue izin gak olahraga hari ini, lagi gak enak badan. Gue disuruh liatin aja sih di pinggir lapangan."

"Oh, pantes muka lo agak pucet,"

Rhea menyentuh wajahnya sendiri. "Gitu, ya?"

"Hm,"

Rhea merasa Langit terus menatap wajahnya tanpa berkedip, hal itu sedikit membuat Rhea malu. Gadis itu berdeham, mencairkan suasana. "Kenapa? Ada sesuatu di muka gue?"

Sudut bibir Langit terangkat sedikit. "Enggak..."

"Hahaha... kirain,"

Angin berhembus cukup kuat melalui jendela, meniup segalanya, termasuk helaian rambut Rhea yang terurai lurus, beberapa diantaranya mengenai wajah.

GHOST ROOMS [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang