(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nagara berjalan santai menyusuri lorong utama gedung sekolah sambil membalas pesan dari Zidane yang menyuruhnya untuk segera datang ke asrama. Nagara baru saja pulang rapat dengan pengurus osis lainnya. Namun, seperti biasanya Nagara lah yang menjadi orang terakhir pulang dari ruang rapat. Seperti halnya hari ini dia harus pulang pukul setengah enam sore karena harus mengurus banyak hal yang perlu diselesaikan.
"Nagara!"
Panggilan itu menghentikan langkah cowok jangkung itu, dia lalu menoleh ke arah gerbang sekolah, tempat sumber suara itu berasal. Pak Tarjo-security SMA Praba-menghampiri Nagara dengan payung birunya.
"Kenapa, Pak Tarjo? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nagara begitu Pak Tarjo sampai di hadapannya.
Pak Tarjo tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya malu. "Anu...iya nih, saya mau minta tolong sama Nagara,"
"Minta tolong apa, Pak?"
"Boleh minta tolong untuk jaga gerbang sebentar tidak? Saya kebelet ke toilet. Terus 'kan ini udah mau masuk jam-jam tutup gerbang sekolah, tapi masih ada beberapa murid yang belum balik ke sekolah, jadi saya minta tolong kalau ada yang pulang contreng di surat izin ini, ya. Kira-kira Nagara bisa bantu Bapak tidak?" tanya pria paruh baya itu.
Nagara tersenyum seraya mengangguk mengiyakan. "Bisa, Pak. Santai aja kalau sama saya. Mana surat-suratnya, Pak? Biar saya yang pegang,"
"Ini ya suratnya, sekalian payungnya juga." Pak Tarjo lantas memberikan beberapa surat izin itu pada Nagara, segera dia berlari ke toilet untuk menyelesaikan hajatnya.
Nagara berjalan menerobos hujan dengan payung biru dipegangannya, berdiri di depan pos security yang letaknya bersebelahan dengan gerbang utama. Sambil menunggu kedatangan seseorang, Nagara iseng membaca nama orang-orang yang belum datang ke sekolah padahal gerbang setengah jam lagi segera ditutup. Gerakkannya terhenti begitu membaca nama Rhea berada di salah satu surat.
"Kemana tuh cewek jam segini belum balik?" tanyanya pada diri sendiri.
Nagara melirik arlojinya. Tinggal 20 menit lagi gerbang ditutup, sedangkan Rhea belum juga kembali. Dia merogoh saku celananya mengambil ponsel, niatnya untuk menelepon Rhea. Tetapi Nagara ragu, dia takut Rhea salah paham dengan panggilan teleponnya yang ini. Alhasil Nagara mengurungkan niatnya menelepon, beralih Nagara membalas pesan Zidane yang belum sempat dia balas tadi.
Nagara menoleh begitu mendengar suara bus berhenti di depan gerbang. Tak lama seorang gadis turun dengan tubuh lemasnya, dia lalu terduduk di aspal, membiarkan baju seragamnya diterjang hujan.
"Rhea?" Nagara menajamkan penglihatan, memastikan jika itu benar Rhea. Dia tidak mungkin salah lihat, oleh karena itu segera Nagara berlari menghampiri Rhea yang terduduk lemas. "Rhea!"
Rhea mendongak begitu Nagara berjongkok dihadapannya. Matanya yang cantik mengatakan jika dia sedang kesakitan saat ini, dia membutuhkan Nagara.
"Lo gak papa? Kenapa duduk di sini? Hujan deras, nanti lo sakit." Nagara memegang bahu Rhea, membiarkan dirinya yang kini jadi penopang.