(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua minggu berlalu sejak bertemu dengan Septa saat itu. Hari-hari berjalan seperti biasanya, kehidupan Rhea tidak jauh dengan namanya sekolah, asrama, dan juga hantu. Seperti saat ini Rhea hendak memulai pembelajaran pertamanya di hari Jumat. Pelajaran pertama yaitu kimia. Pelajaran yang benar-benar membuat Rhea harus belajar lebih extra dibandingkan dengan pelajaran lainnya.
"Sebelum memulai pelajaran, kita beri tepuk tangan dulu untuk Langit yang berhasil menjuarai perlombaan renang tingkat Provinsi!" ucap guru yang mengajar pelajaran kimia.
Tepuk tangan bergemuruh riuh mengisi seisi ruang kelas. Semua orang menatap ke belakang, tepatnya pada kursi yang Langit duduki. Cowok urak-urakkan itu hanya tersenyum bangga. Setelah selama ini dia selalu dipandang sebelah mata. Akhirnya Langit dapat membuktikan kalau dia juga punya bakat yang patut diapresiasi.
Dona menyenggol lengan Rhea pelan membuat gadis itu lantas menoleh. "Apaan?"
"Katanya Kak Nagara juga jadi juara di lomba pidato, kan?"
Rhea mengangguk. "Hm. Gue udah lihat di mading tadi pagi."
~~~~~~~~~~
SELAMAT KEPADA:
NAGARA AKSARA GAURI
LANGIT KALF P
Yang telah berhasil menjuarai lomba pidato dan renang tingkat Provinsi di Antariksa Cup 2020.
~~~~~~~~~~~~
"Wah, gak salah lo nge-crushin dia. Kalau ada pendaftaran buat jadi pacar Kak Nagara pasti ngantri tuh panjang banget!" ucap Dona lebay. Rhea hanya tertawa pelan, Dona memang ada-ada saja kelakuannya. "Dan lo ngantri paling depan, iya gak?"
"Enggaklah! Kalau gue paling depan kelihatan banget ngebetnya." Dona dan Rhea lantas tertawa. Mereka jadi membayangkan hal itu terjadi nyata, entah akan seperti apa jadinya, pasti heboh.
Tiba-tiba Dona teringat sesuatu, sesuatu yang membuatnya terheran-heran kemarin. Dia memukul lengan Rhea dan menyuruhnya untuk mendekat, ciri khas orang mau menggosip. "Tau gak sih, kemarin Siera tiba-tiba nanya ke gue, katanya gini 'Kak Nafi udah ada cewek belum sih?' gitu katanya! Aneh, kan?"
Mata Rhea melotot kaget. "Serius?!" Dona mengangguk yakin. "Tiba-tiba banget?"
"Iya! Suka sama Kak Nafi kali ya dia?"
"Tapi sejak kapan?"
Bahu Dona naik dengan entengnya. "Tapi gue seneng sih, soalnya hidup dia itu terlalu datar, Rhe. Dari kecil dia selalu ditekan sama orang tuanya. Gak boleh ini lah, itu lah. Pokoknya serba gak boleh. Itu alasan dia pengen masuk ke sekolah ini, selain karena sekolah ini bagus, di sini juga ada asramanya. Seenggaknya dia kebebas dari tekanan itu di sini."