5 tahun lalu...
"Tes 10 menit lagi. Semuanya harap siap-siap!"
Kaki gadis bermasker biru itu kian bergetar seiring dengan waktu yang terus berjalan. Bibirnya yang tertutup masker merapalkan sesuatu, entah apa yang dirapalkan.
"Lo bisa diem gak?"
Pertanyaan itu membuat gadis itu menoleh. "Maaf."
Nagara, cowok berumur sebelas tahun yang tadi bertanya, hanya menghela napas pendek, lalu kembali fokus membaca komiknya. Namun, hal itu tak berselang lama, ketika gadis di sebelahnya mencolek lengannya pelan. Nagara kembali menoleh.
"Kenapa?"
"Ka-kamu... gak gugup?" tanyanya.
Nagara menggeleng. "Enggak, kan udah biasa. Setiap bulan juga begini. Emang ini pertama kalinya buat lo?"
Gadis itu melotot kaget. "Y-ya enggaklah!"
"Terus? Apa yang perlu digugupin?"
Gadis itu terdiam.
"Udah santai aja,"
Dia hanya mengangguk mengerti, lalu kembali merapalkan sesuatu yang tak jelas terdengar itu.
"Lo lagi flu?" tanya Nagara.
"Hm."
Hening sesaat sebelum akhirnya Nagara kembali bertanya.
"Nama lo siapa?"
Gadis itu menoleh. Matanya saling bertatapan dengan Nagara. Kalau boleh jujur, mata gadis bermasker itu sangat.... cantik?
"Shea."
Nagara mengangguk mengerti. "Oh... pernah denger sih sebelumnya nama lo disebut, tapi ini pertama kalinya kita ngobrol, ya?"
Shea mengangguk.
"Waktunya 3 menit lagi, ya!" Bu Lala-guru les sekaligus pemilik tempat les ini-kembali berteriak di dalam sebuah ruangan yang nantinya akan digunakan untuk tempat tes berlangsung.
Jantung Shea kian berdebar, dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya setelah tadi sempat diredam karena Nagara mengajak berbicara. Suara riuh sekitar menambah kegugupan Shea. Hal itu hanya berselang sebentar saat tiba-tiba Nagara memasangkan headphone-nya pada kedua telinga Shea.
Gadis itu menoleh dengan pertanyaan dan rasa kaget yang dia punya. Dia melepas benda itu sejenak. "Kok dipakein ke aku?"
"Biar gak gugup,"
"Tapi..."
"Udah. Nanti kalau nama lo dipanggil gue kasih tahu." Nagara kembali memasangkan headphone itu lagi pada Shea.
Shea mengangguk nurut. Alunan musik mengisi pendengarannya, hal itu cukup menangkan, dan membuang sedikit rasa gugupnya akan tes itu.
Beberapa menit berlalu, Nagara berdiri dari kursinya, sontak membuat Shea mendonggak menatap tubuh jangkung Nagara walaupun usianya baru sebelas tahun.
"Gue udah dipanggil," ucap Nagara begitu melihat Shea melepas headphone.
Shea berdiri dari duduknya sambil sedikit merapihkan bajunya yang kusut. "Semangat, ya." Ucapnya tulus sambil tersenyum di balik masker.
Nagara terdiam. Semangat. Kata yang ingin dia dengar satu tahun terakhir ini. Semenjak Mamanya sering sekali mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan, hingga lupa pada anak satu-satunya yang masih dalam masa pertumbuhan dan butuh kasih sayang lebih.
Kata semangat memang kata yang mudah diucapkan, namun Nagara tertegun dengan yang satu ini. Shea mengucapkannya terdengar tulus, serta mata indah miliknya menyipit menandakan dia tengah tersenyum sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHOST ROOMS [SELESAI]
Teen Fiction(Ghost series #4) Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini; Membuka satu pi...
![GHOST ROOMS [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/304321726-64-k521869.jpg)