Bagian 41 : Room No. 8

6.5K 932 53
                                        

Selamat membaca para pembaca cerita Dey😤🐛

Tidak ada pergerakan di dalam kamar nomor 8

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak ada pergerakan di dalam kamar nomor 8.

Dengan keberanian penuh Nagara masuk ke dalam ruangan gelap nan lembab itu. Tidak ada pergerakan sama sekali itu mencurigakan. Jika terlalu tenang seperti ini biasanya selalu ada hal mengejutkan akan datang. Dan benar saja. Saat kaki laki-laki itu baru empat langkah masuk, muncul makhluk besar berbulu hitam dengan taring dan tubuh yang hampir menyentuh langit-langit ruangan.

"Sial!" Nagara berlari keluar ruangan secepat kilat. Namun, sebelum semakin menjauh dari keberadaan kamar nomor 8, Nagara sempat melirik ke arah tempat Rhea bersembunyi. Anehnya, Rhea seolah tidak melihat apa-apa, pandangannya tetap tertuju pada pintu dan tidak bergerak mengikuti pergerakan Nagara yang sedang berlari menjauh.

Di tengah pelariannya, Nagara mengecek ponsel yang ada di genggaman, sambungan telepon masih terhubung.

"Kak, gue masuk aja, ya?" suara Rhea terdengar.

Nagara yang tengah sibuk berlari dari kejaran makhluk menyeramkan itu menjawab. "Rhe, dengerin gue. Kalau ada yang aneh lo jangan masuk ke sana. Cukup lo diem aja di situ, biar gue yang datangin lo. Oke?"

Namun, sambungan telepon itu sudah terputus beberapa detik yang lalu. Apakah pesannya sampai pada gadis itu? Bagaimana jika tidak? Apa Rhea akan baik-baik saja?

"Sial, gak ada sinyal!" Nagara marah. Dia mempercepat langkah dan mencari tempat teraman baginya.

BRUK

Nagara terjatuh ke lantai yang dingin. Jaket hitam beserta kaus berwarna putih yang dipakainya terkotori tanah dan lumut hijau. Badannya berbalik menatap penyebab dari tragedi jatuhnya. Makhluk hitam bertaring itu mendekat, mata merahnya menatap Nagara seolah ingin menyantap Nagara hidup-hidup.

"Hahahaha..." tawanya menggelegar seisi ruangan. "Kau salah."

Makhluk itu hilang dalam sekejap. Meninggalkan Nagara yang masih terduduk penuh kebingungan. "Kau salah? Apa maksudnya?" otak Nagara berputar mencari jawaban. Beberapa detik setelahnya Nagara mengerti, dia lantas bangkit dan pergi ke tempat Rhea.

Karena mungkin saja Rhea kini dalam bahaya.

**

"Dia juga gak punya taring kayak gitu."

Senyuman Nagara luntur, berubah datar dan menyeramkan. Dalam hitungan detik Nagara yang semula biasa saja berubah menyeramkan. Tubuhnya berbulu besar berwarna hitam, taringnya panjang sampai lutut.

Rhea mundur beberapa langkah, lalu berlari menelusuri hutan belantara itu sendirian. Rasanya Rhea ingin menangis, namun dia merasa ini bukan waktunya. Melakukan segala cara untuk selamat kali ini lebih penting daripada menangis yang belum tentu menghasilkan sebuah jalan keluar.

GHOST ROOMS [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang