(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rhea mengamati lamat-lamat foto retak yang terpajang di lobi asrama tua. Tangannya terkepal kuat menyalurkan segala emosi yang dia pendam. Foto usang itu merupakan figur kepala sekolahnya dahulu. Orang yang menyebabkan semua kekacauan ini. Rhea tidak mengerti mengapa wanita itu melakukan semua hal gila ini hanya demi sekolah ini bisa berdiri dengan jayanya. Sampai wanita itu rela mengorbankan segalanya.
Tanpa sadar air mata Rhea jatuh saat mengingat bagaimana kondisi Nagara yang belum juga sadar dari komanya. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk menangis, Rhea harus menyelesaikan semuanya sendiri.
"Rhe,"
Sontak Rhea menoleh ke belakang saat namanya di panggil. Alisnya berkerut bingung melihat laki-laki itu datang.
Dia adalah Langit.
"Kenapa lo ada di sini?" tanya Rhea begitu Langit berdiri di sampingnya dan ikut menatap foto sang nenek.
Langit tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus foto sang nenek dengan mata yang sedikit berair. "Gue di sini buat bantu lo."
Rhea kian bingung. "Maksud lo?"
Langit menolehkan kepala. "Gue di sini pengen nenek gue pergi dari alamnya yang benar, biar dia gak berbuat jahat terus."
Gadis di hadapannya terdiam mendengar penuturan yang terdengar menyakitkan itu. Suara jangkrik mendominasi keheningan di antara keduanya.
"Nagara yang minta gue buat bantuin lo," Mata Rhea melotot kaget begitu nama Nagara diucapkan. Bagaimana bisa? "Malam itu, sebelum dia kecelakaan, Nagara chat gue dan bilang kalau gue harus bantuin dia biar masalah ini biar cepat selesai."
Buliran hangat itu jatuh tanpa diduga. Rhea menghapusnya cepat dan membuang arah pandang.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki ramai mendatangi asrama tua ini. Rhea dan Langit sontak menoleh dan mendapati bahwa ketiga teman sekamarnya, ketiga teman sekamar Nagara, dan juga pembina asrama putri datang mengahampiri mereka. Rhea menatap wajah mereka satu persatu dengan perasaan bingung.
"Kalian..."
"Kami di sini diminta Nagara,"
Lagi-lagi, Nagara. Rhea kembali menangis ketika Nagara tidak pernah membiarkannya sendirian.
"Bu Marin..." Rhea menatap Bu Marin—pembina asrama putri mereka.
Bu Marin tersenyum ramah. Kakinya melangkah mendekat dan menggenggam tangan Rhea. "Saya datang atas permintaan Nagara, tapi saya juga punya kewajiban untuk menjaga kalian semua di sini." Bu Marin menghapus air mata Rhea yang membanjiri pipi. "Tidak usah menangis. Kamu pasti bisa."