(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti apa kata Nagara semalam, cowok itu mengajak Rhea bertemu di dekat gimnasium. Langkah Rhea tak lama lagi sampai di sana, bersamaan dengan itu detak jantungnya juga kian berdegup kencang.
Dua menit perjalanan, Rhea akhirnya sampai. Gimnasium tampak ramai oleh anggota ekskul basket. Maklum saja, ini jam istirahat. Biasanya mereka suka berkumpul saat jam istirahat. Namun, tujuan Rhea bukan masuk ke dalam gimnasium, Nagara hanya menyuruhnya menunggu di dekat sana saja. Oleh karena itu Rhea menunggu di tempat yang tak terlalu ramai, duduk di kursi panjang seraya memainkan ujung sepatunya yang sedikit kotor.
Sembari menunggu kedatangan Nagara, Rhea bergelut dengan pikirannya yang mulai berpikir ke mana-mana. Berbagai pertanyaan terlintas dan bertubrukan satu sama lain di dalam otaknya. Mengapa Nagara mengajaknya bertemu? Apa sebenarnya yang ingin dia bicarakan? Apa ini menyangkut soal kejadian di asrama malam itu? Dan masih banyak lagi, sebelum akhirnya sebuah suara membuyarkan lamunan Rhea.
Itu suara Nagara, memanggil namanya seraya menenteng sebuah kamera yang tergantung di lehernya.
"Nunggu lama?" Tanyanya lalu ikut duduk di samping gadis itu, agak berjarak.
Rhea menggeleng pelan. Kepalanya menunduk menatap sepatu, terlalu malu untuk saling bertatapan dengan Nagara.
"Kakak ikutan ekskul fotografi?"
"Hm," Nagara mengangkat kamera kecil berwarna hitam itu, lalu di arahkan pada Rhea. "Mau difoto gak?"
Kepala Rhea menoleh cepat. Matanya membulat kaget saat sebuah suara kamera terdengar.
Cekrek
"K-kak kok main foto aja!"
Nagara tidak membalas, dia sibuk mengecek hasil fotonya barusan. "Bagus kok," kepalanya manggut-manggut, kemudian beralih menatap Rhea.
"Mau dikirim gak?"
Alis Rhea terangkat bingung.
"Kalau mau gue kirim nanti," sambungnya.
"Lewat apa? Whatsapp? Aku 'kan gak punya nomor kakak,"
Nagara kembali bergelut dengan kameranya, kemudian membalas, "Ngode nih ceritanya?" Tanyanya membuat mata Rhea membulat sempurna.
"Siapa yang ngode?! Mana ada! A-aku cuman-"
"Nih," Nagara menyodorkan ponselnya. Layar pipih itu menunjukkan sebuah kode QR. "Scan."
Rhea mendelik kesal. "Males."
"Dih, marah." Nagara mencibik. "Yaudah, gue masukin lagi kalau gitu hp gue." Rhea tidak peduli ketika Nagara benar-benar memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tetapi jujur saja Rhea sedikit kecewa, padahal dari dulu Rhea ingin sekali mempunyai nomor Nagara.
"Lo bisa gak jangan pake aku-kamu-an, pake lo-gue ajak biar gak aneh. Lagian kita cuman beda satu tahun doang."