Bagian 11 : Room No. 2

7.7K 1K 85
                                        

Mimpi buruk itu datang lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mimpi buruk itu datang lagi.

Reaksi Rhea kali ini berbeda dari sebelumnya, tidak sesedih dulu, mimpi kali ini Rhea mulai terbiasa. Walaupun begitu, rasa takutnya masih ada, traumanya masih melekat hingga sekarang.

Rhea mengusap wajah, lalu beranjak turun menuju kamar mandi untuk cuci muka. Udara pasti dingin di luar sana karena itu Rhea tidak pernah lupa untuk membawa jaket. Selain itu, Rhea juga sering bentol-bentol jika kedinginan.

Seperti biasa, lorong asrama sepi serta pintu yang biasanya gembok rapat kini tidak terkunci sama sekali. Rhea bingung sendiri, ini ulah siapa? Manusia kah? Atau mungkin hantu?

Sembari bergelut dengan pikirannya, tak terasa langkah kaki Rhea sampai di depan asrama tua itu. Tidak ada Nagara, hanya Rhea sendiri di tempat itu tengah malam begini. Bulu kuduk meremang, angin malam menusuk kulit meskipun dilapisi jaket. Rhea menggosok lengannya mencari kehangatan. Matanya menatap was-was sekitar.

Tak lama suara telepon berbunyi mengagetkan Rhea. Rhea berdecak kesal seraya merogoh sakunya jaket cepat. Ternyata Nagara yang menelepon.

"Halo?"

"Lo udah sampe?"

"Iya. Kak Gara di mana?"

"Arah jam 3."

Mendengar itu Rhea menolehkan kepalanya cepat, lalu tersenyum kelewat bahagia.

"Bahagia banget lihat gue," ejeknya. Detik berikutnya Rhea merubah ekspresinya cepat, menjadi datar. Nagara terkekeh seraya melangkahkan kakinya mendekat, kemudian mematikan sambungan telepon.

"Udah lama nunggu?"

Rhea menggeleng. "Yuk, masuk!" Ajak Rhea, namun lengannya di tahan Nagara. "Kenapa, Kak?" Tanyanya dengan kening berkerut.

Bukannya menjawab pertanyaan Rhea, cowok itu justru mengotak-atik ponselnya dengan sebelah tangan karena sebelah tangannya lagi masih menahan Rhea. Ponsel yang masih Rhea genggam berbunyi.

"Angkat," ujar Nagara.

"Buat?"

"Angkat aja, terus dengerin penjelasan gue."

Meski bingung, Rhea bergerak mengangkat panggilan Nagara. "Terus?"

Nagara merogoh saku celananya, mengambil dua pasang earphone bluetooth, lalu memberikannya satu pasang pada Rhea.

"Ini buat apa, Kak?"

"Mulai besok lo bawa earphone bluetooth kayak gini kalau mau masuk ke dalam sana. Ini cara kita komunikasi kalau misalnya gue jauh sama lo. Lo inget 'kan, waktu gue dikejar Viya, sedangkan lo di kamarnya sendiri, waktu itu gue teriak-teriak manggil-manggil nama lo buat tutup pintu?"

"Inget,"

Nagara tertawa pelan seraya memasang earphone itu dikedua telinganya. "Cape juga teriak-teriak ternyata."

GHOST ROOMS [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang