(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bel asrama kembali membangunkan tidur Rhea untuk kesekian kali. Mimpi buruk dan bel asrama misterius itu selalu datang bersamaan, sepaket, tujuannya jelas saja untuk meneror orang yang bersangkutan.
Seperti biasanya, setelah mengalami mimpi buruk Rhea lantas keluar asrama dan pergi ke asrama tua. Nagara sudah lebih dulu sampai di depan sana. Rambut legamnya tertiup angin malam, yang rasanya angin malam ini lebih dingin dari malam sebelumnya.
Langkah Rhea perlahan mendekat dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku jaket putihnya. Senyuman Rhea disambut hangat oleh Nagara yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
"Nunggu lama ya, Kak?"
Nagara menggeleng. "Yuk masuk!" Rhea langsung mengangguki ajakkan Nagara barusan.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di pintu nomor empat. Sambungan telepon sudah tersambung sejak beberapa waktu lalu. Tali sepatu sudah diikat dengan kuat. Tak mau membuang waktu, Rhea lantas berjalan ke ujung lorong untuk bersembunyi, menjalankan peran masing-masing.
Tangan Nagara pelahan memutar knop pintu, namun pintu tak terbuka. Cowok itu mencoba lagi, memutar, mendorongnya, namun hal sama masih terjadi.
Pintu nomor empat tidak terbuka.
Melihat ada yang aneh, Rhea berjalan mendekati Nagara, lalu bertanya. "Kenapa, Kak?"
"Enggak tahu, gak bisa dibuka."
Nagara mencobanya sekali lagi, tetapi tetap saja pintu itu tidak mau terbuka juga.
Rhea menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Kenapa ya kira-kira?"
Bahu Nagara naik enteng sambil beberapa kali mencoba memutar knop pintu itu lagi.
"Rusak kali, ya?" Rhea mencoba memutar knop pintu dan mata Rhea lantas melotot ketika pintu itu mulai terbuka. Refleks Nagara menarik Rhea ke belakang punggungnya. Kaki Rhea mulai bergetar.
Kriettt....
Sosok di dalam sana mulai terlihat wujudnya. Seorang perempuan berbaju seragam sekolah, rambutnya sebahu, dan perempuan itu kini sedang membelakangi mereka sambil mengaca di cermin yang menggantung di dinding. Senandungan kecil terdengar tak jelas. Namun, berhasil membuat bulu kuduk Rhea dan Nagara meremang.
"Dalam hitungan ketiga, lo lari ke ujung sana lagi, oke?" bisik Nagara. Matanya masih tertuju pada sosok perempuan itu.
Rhea mengangguk, beriringan dengan pegangan di tangannya mengendur. Langkah Rhea perlahan mundur, mundur, lantas berlari menuju tempat kecil di ujung lorong.
Nagara masih berdiri di depan pintu kamar nomor empat itu. Sosok di dalam sana masih berada di titik yang sama dengan posisi yang sama. Senandungan kecil masih terdengar. Namun, saat kaki Nagara masuk satu langkah, senandungan kecil itu hilang.