(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rhea bukan wanita bodoh yang tidak mengerti semua perhatian yang Nagara berikan beberapa minggu ini setelah pertemuan mereka direuni sekolah saat itu. Mereka bahkan pulang bersama setelah acara itu selesai. Selanjutnya mengalir begitu saja, mereka saling berhubungan kembali melalui chat atau sesekali telepon. Bahkan Nagara terkadang menawari Rhea jemputan setelah Rhea pulang kerja. Seperti saat ini, Nagara sudah menunggu Rhea di parkiran gedung kantor untuk menjemput Rhea.
Tok tok
Rhea mengetuk kaca mobil Nagara. Tidak lama kaca itu turun dan menampilkan wajah Nagara yang sumringah.
"Udah lama ya nunggu?" Rhea bertanya dengan senyum.
"Enggak," Nagara menaruh ponselnya. "Udah makan belum?"
Rhea menggeleng.
"Sengaja ya belum makan karena tahu mau makan sama gue?" Nagara melontarkan candaan.
Perempuan itu tertawa renyah. "Geer, ya!"
"Makan apa ya..." Nagara menyalakan mesin mobil, lalu meninggalkan parkiran dengan cepat. Jalanan kota terlihat padat karena ini jam-jamnya pulang kerja. "Makan apa, Rhe?"
"Eum..." Rhe mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Pikirannya melayang memikirkan makanan yang enak disantap saat ini. "Udon? Gimana?"
"Udon?" Rhea mengangguk. "Oke deh."
Nagara menjalankan mobilnya menuju resto udan terdekat dan tentunya enak juga. Setahunya ada resto udon enak di dalam mall yang terkenal enak, sekaligus Nagara ingin membeli sebuah hadiah untuk Rhea. Lima menit kemudian mobil Nagara sampai di parkiran mall.
"Rhe, gue ke toilet bentar, lo ke restonya duluan aja, ya." Ujar Nagara.
"Oh, oke." Rhea tidak banyak bertanya, ia lantas saja ke restoran yang Nagara bicarakan tadi.
Rhea duduk di bangku yang menurutnya paling strategis dan nyaman. Sambil menunggu Rhea bermain ponsel membalas chat teman-temannya. Tidak lama, Nagara datang dengan membawa sebuah papper bag berukuran kecil bertuliskan Swarovski. Nagara mendorong papper bag itu pada Rhea.
"Ini apa?" tanya Rhea.
"Hadiah," Nagara membalas enteng. Laki-laki itu melepas jas abu-abunya di kursi, kini Nagara hanya menggunakan sebuah kemeja hitam saja.
"Hadiah dalam rangka apa?"
Sejenak Nagara melipat lengan kemejanya hingga siku, kemudian menatap Rhea. "Udah pesan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Rhea mengangguk cepat. "Ini hadiah apa? Gak perlu, Ga." Rhea mendorong papper bag itu lagi ke arah Nagara, namun Nagara kembali mendorongnya lagi pada Rhea.
"Pesen dulu, abis itu gue mau ngomong sesuatu."
Rhea terdiam. Ia tidak banyak berkomentar dan menuruti perkataan Nagara. Mereka memesan dua mangkuk udon dan juga beberapa cemilan lain. Pelayanan resto ini cukup cepat, dalam waktu kurang dari 10 menit saja makanan sudah tersaji di meja makan. Keduanya makan dengan tenang tanpa ada kata yang keluar. Aneh, suasana berubah jadi canggung.