(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo yakin Rhe mau berangkat sekarang?" Luna bertanya pada Rhea yang sedang memakai sepatu.
Rhea mengangguk kecil. "Iya."
"Lo masih sakit loh," Siera menambahkan, yang langsung diangguki Luna dan Dona. "Kemarin aja lo pingsan 'kan dianter Kak Nagara ke asrama."
"Lagian gue nemuin Ashila juga barengan sama Kak Nagara kok," balas Rhea.
"Yakin? Gue lihat-lihat lo lagi marah sama dia," ujar Dona yang langsung membuat Rhea terdiam. "Udah baikan emang?"
Rhea selesai memakai sepatunya, dia bangkit dari kursi bergegas mengambil tas. "Gue berangkat ya," Rhea mengalihkan pertanyaan. "Paling sorean gue balik."
"Yaudah lo hati-hati. Cepet baikan sama Kak Nagara." Ujar Luna. Rhea hanya tersenyum kecil, sebelum akhirnya dia keluar kamar dan pergi untuk menyelesaikan misi kamar nomor 7.
Di perjalanan Rhea menuju gerbang sekolah, Nagara sempat mengirim pesan. Dia mengatakan jika Nagara akan menunggu Rhea di parkiran, Nagara mengajak Rhea untuk berangkat bareng. Namun jelas saja, Rhea yang sedang mati-matian menghindari sosok Nagara, tentu saja menolak. Rhea bilang dia bisa berangkat sendiri naik ojek online. Malas membalas pesan lainnya, Rhea mematikan ponselnya sendiri dan melanjutkan langkah.
Entahlah, mungkin orang berpikir kalau sikapnya ini kekanak-kanakan, tetapi hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membatasi diri dan belajar memahami betul apa itu sadar diri.
Cekit
Rhea menghentikan langkah saat melihat Nagara masih menunggunya di pinggir jalan. Rhea pikir Nagara sudah pergi duluan meninggalkannya.
"Udah gue duga lo pasti hindarin gue,"
"Apa sih lo Kak." Rhea mendelik malas. Dia mengecek ponselnya untuk melihat keberadaan abang ojol yang tadi hampir saja sampai. "Loh kok dibatalin?" Gumam Rhea.
"Gue yang batalin," ujar Nagara enteng. Gadis itu lantas menatap Nagara kesal. "Abangnya tadi udah ke sini, tapi gue bilang kalau lo mau bareng gue jadi gak jadi pesennya."
"Yaudah gue pesen lagi," Rhea kembali memesan ojol. Nagara hanya bisa menghela napas lelah dan pasrah. Tak lama abang ojol datang dengan jaket hijaunya. Rhea lantas naik tanpa mempedulikan Nagara.