(Ghost series #4)
Ada sepuluh pintu misterius di asrama terbengkalai dekat sekolah. Lalu, dengan bodohnya Rhea dan Nagara membuka pintu yang tak pernah tersentuh selama puluhan tahun itu. Teror pun dimulai, namun ingat peraturan ini;
Membuka satu pi...
Aku masih belum bisa Melupakan kau di sana Walau terluka, ku bisa apa Kau berucap lalu pamit, kau di pihak dia
Aku masih belum lupa Cinta pernah punya kita Walau semesta berkata beda Aku harus tangguh hadapinya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini buku albumnya," Nagara menaruh totebag di atas meja cafe lalu melipat tangannya di dada. "Gue juga udah coba cari nama yang lo bilang, Jihan, Amel, Kavin, semuanya ada di sana. Kelas 12 C angkatan 2003. Mereka semua sekelas dulu."
Rhea mengangguk mengerti sembari membuka buku album angkatan itu. Benar saja, Jihan, Amel beserta Kavin yang dia lihat di kilas baliknya sama dengan foto yang ada di album. Namun, wajah yang Jihan tampakkan saat di asrama tua itu wajahnya yang menyeramkan, bukan wajah cantik natural yang Rhea lihat di foto serta kilas balik.
Sungguh, Jihan benar-benar cantik. Rhea tidak mengerti mengapa Amel membully-nya dan menyebut Jihan jelek? Rhea tidak mengerti dengan orang yang seperti itu. Dulu dia sering diejek jelek dan komentar negatif menyangkut fisiknya yang lain. Rhea menjadi sering insecure. Tidak percaya pada dirinya sendiri. Rhea sering berpikir, apa dia memang sejelek itu? Apa Rhea tidak pantas dicintai orang-orang? Ya, sampai sekarang Rhea masih berpikir untuk itu.
"Rhe, sesuatu yang mau lo omongin itu apa?" pertanyaan Nagara menarik Rhea kembali ke cafe sekolah ini. Gadis itu mengerjap sebelum menjawab.
"Oh, itu... Gue gak tahu Kakak percaya atau enggak, tapi kemarin waktu gue ketemu Jihan terus gue pegang tangan dia, gue kayak ngalamin kilas balik gitu."
"Kilas balik?"
Rhea mengangguk. "Hm. Kilas balik. Waktu gue megang tangan Jihan, ingatan menyakitkan Jihan dulu tiba-tiba masuk ke kepala gue. Berputar kayak kaset rusak. Gue bahkan masih inget gimana ingatannya."
Nagara menumpu tangannya di meja, penasaran. "Gimana? Apa ada hubungannya sama kematian dia?"
"Iya. Lo inget 'kan kata-kata yang dia ulang waktu itu?"
"Inget. Dia bilang 'aku cantik tidak?' gitu."
Rhea menghela napas pendek lalu menceritakan semuanya pada Nagara. Apa yang dia lihat. Rasa sakit hati Jihan yang berhasil sampai padanya. Semuanya benar-benar sesak luar biasa.
"Jadi," Nagara menatap netra Rhea yang sedikit berkaca-kaca. "Jihan dibully gitu?"
Rhea mengangguk kecil seraya menunduk menatap gelas jus alpukatnya yang mulai berembun.
"Lo juga dulu?"
Kepala gadis itu terangkat, jarinya terdiam kaku di atas sedotan yang dia pegang. Matanya semakin memanas. Entah kenapa jika ditanya masalah ini dia selalu ingin menangis. Nagara menjadi orang ketiga yang bertanya pertanyaan ini, setelah Shea dan Marin dulu.