Sejak pulang sekolah, entah mengapa pikiranku penuh oleh gambar selebaran lomba di mading. Jujur saja, jika bahkan kesempatan yang kumiliki sangatlah kecil, aku ingin tetap mendaftar. Bayangan Dika sewaktu menegaskanku untuk mengikuti lomba cerpen melintas begitu saja. Berulang dan seakan aku menyesali pilihan awal.
Apakah benar tak akan apa-apa? Bagaimana bila Ibu menganggapku tak fokus pada pelajaran?
Napasku mengembus di udara. Memikirkan perihal lomba kepalang membuat pening. Ah, tidak, Nila! Fokus! Kau sudah yakin akan mengabaikan itu semua. Tidak tidak tidak! Abaikan itu. Abaikan tawaran Dika. Abaikan pengumuman di selebaran.
Beberapa langkah lagi, aku akan mencapai sepeda yang terparkir di halaman depan. Kulihat di sana sudah berdiri Ari. Gadis itu sedang asyik mengobrol dengan seorang lain hingga mengabaikan kehadiranku yang hanya tepat di belakangnya. Ketika aku sadar siapa yang mengobrol bersama Ari, mataku mendelik dengan mulut sedikit ternganga. Oh, secepat itu?
"Eh, Nila. Maaf kalau aku tadi ninggalin kamu di kelas. Aku ada perlu." Dia tercengir.
Aku mengerti. Bahkan tanpa Ari harus mengerling ke arah pemuda yang turut memperhatikanku. Aku menggeleng diiring senyum. Lantas menarik keluar sepeda biru di antara apitan sepeda motor milik anak-anak yang lain.
Sebab tak mau mengganggu Ari dengan Adin, tanpa seucap pamit aku menyingkir. Lalu, ketika mencapai muka gerbang, barulah sesuara dari belakang punggung terdengar memanggilku. Suara itu berat dan sedikit serak. Tidak salah lagi. Aku nyaris bersembunyi andai saja tak terlambat.
"Hei, Nila! Kamu mau ambil buku ini waktu itu, 'kan?"
Oh, tidak. Jangan lagi. Jangan Bayu.
Aku menyesal telah sempat beberapa menit menunggui keberadaan Ari di kelas. Andai lebih awal pergi, mungkin ini tak akan terjadi. Dari mana dia tahu namaku? Kelas kami jelas berbeda ruang dan jurusan.
***
Kue kering buatan yang Ibu sediakan dalam piring sudah habis setengah dan aku masih belum selesai berkutat dengan tugas sekolah. Dika mengatakan akan kemari. Namun, sampai sekarang anak itu tak tampak keberadaannya. Aku berharap dia tak akan datang. Tak akan lagi. Sayang, dia bersikeras karena tahu ibuku tak di rumah walau pun beliau hari ini libur kerja.
Aku nyaris tidur jika segelas teh di samping habis. Kafein yang terkandung di dalamnya memang tak sekuat kopi. Namun, cukup membuatku untuk tetap fokus belajar. Setidaknya, begitu awalnya.
Ketukan di pintu depan membangunkanku yang hampir saja menjatuhkan kepala ke atas buku sebab mengantuk. Segera aku berdiri. Rasa bosan menguap begitu saja ketika mendapati Dika benar-benar datang.
"Aduh, maaf. Aku telat, ya, Nil?"
Sementara Dika melepas sepatu dan meletakkannya di rak luar rumah, aku menanggapi kalimatnya dengan sebuah gelengan pelan dan seulas senyum begitu anak itu mengekor.
"Enggak apa-apa, Dik. Aku juga baru buka buku, kok."
Keringat di antara jemariku mulai keluar sekarang. Semoga Ibu datang sedikit lebih lama. Atau Dika tak akan lama di sini.
Dika ikut melongo ke arah meja di mana buku-buku milikku berserak.
"Oh, iya, Nil."
Aku nyaris duduk sebelum suara Dika menghentikan gerakku. Beberapa waktu, anak itu tampak menyelidiki sekeliling ruang tengah. Sebelum akhirnya melepas tas hitamnya buru-buru. Masih dalam posisi berdiri, ia merogoh sesuatu. Selembar kertas yang kupandangi secara curiga ketika anak itu menyerahkannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐀𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐒𝐈
Fiksi Remaja[A 𝐓𝐞𝐞𝐧𝐟𝐢𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧 (𝐘𝐨𝐮𝐧𝐠 𝐀𝐝𝐮𝐥𝐭) 𝐏𝐬𝐲𝐜𝐡𝐨𝐥𝐨𝐠𝐲𝐜𝐚𝐥 Story] [𝐌𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐝𝐚𝐟𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐚𝐧 "𝐊𝐞𝐤𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐖𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚" 𝐨𝐥𝐞𝐡 @𝐀𝐦𝐛𝐚𝐬𝐬𝐚𝐝𝐨𝐫𝐈𝐃] Nila tahu, di usianya yang sudah menginjak tujuh belas tahu...