Spin-Off : 04

12.2K 439 8
                                        

Setengah tahun sudah berlalu sejak malam prom night yang mengubah segalanya. Malam itu, Erlang, pemimpin Lion Cave tidak sengaja meminum racun yang diberikan oleh orang terkasihnya tanpa disengaja. Kini, tubuhnya lemah, terbaring dalam koma di sebuah rumah sakit, sementara dunia di sekitarnya terus bergerak maju tanpa dirinya.

Lion Cave masih berdiri tegak, tetapi dalam hirarkinya perlahan berubah. Digo, Deri, Jose, Kevan, dan Raka, lima sahabat setianya, bertahan menjaga persahabatan mereka, meski arah hidup mereka semakin tak menentu. Rutinitas menjaga Erlang menjadi ritual sunyi yang menyatukan mereka. Di tengah ketidakpastian, mereka terus menggantungkan harapan pada satu hal: kebangkitan Erlang.

Jose duduk di samping tempat tidur Erlang, memainkan ponselnya sambil sesekali melirik monitor yang memantau kondisi sahabatnya. Kebosanan jelas terlihat di wajahnya. Tidak ada yang berubah selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan terasa seperti gulungan waktu yang melambat.

Deri masuk membawa dua cangkir kopi. Aroma kopi hitam menguar, mencoba menghidupkan suasana kamar yang suram. Ia menyerahkan salah satu cangkir kepada Jose.

"Ada perkembangan?" tanya Deri datar, duduk di kursi seberang.

Jose menghela napas panjang. "Sama aja. Kadang gue mikir, Erlang bakal bangun nggak, sih?"

Namun, sebelum Deri sempat menjawab, ada sesuatu yang berbeda. Jari-jari Erlang yang pucat tiba-tiba bergerak. Pergerakan kecil itu bagai ledakan di tengah keheningan.

"WOI!" Jose berseru panik, hampir menjatuhkan kopinya. "Lang? ERLANG!"

Deri yang tadinya terduduk santai langsung terlonjak. Matanya membelalak tak percaya. "Apa? Apa woi?!"

Jose menunjuk jari Erlang yang bergerak, tanpa berlama-lama, Deri segera memencet tombol darurat untuk memanggil dokter dan suster.

Perlahan, kelopak mata Erlang bergerak. Dengan usaha keras, matanya terbuka sedikit. Pandangannya kabur, tetapi ia mengenali siluet Jose dan Deri. Bibirnya bergerak, mengeluarkan suara serak yang hampir tak terdengar.

"J-Jose...?" Erlang mencoba berbicara dikala tenggorokannya terasa sangat kering, bahkan sakit saat ia memaksa berbicara.

Jose membungkuk lebih dekat, matanya memerah. "Lang! Ya Tuhan, bro, akhirnya lo bangun juga!" Suaranya pecah oleh emosi yang tertahan selama setengah tahun penuh.

Deri bergegas keluar kamar, meneriakkan kabar itu pada perawat sekaligus mengirim pesan suara ke grup mereka. Tidak butuh waktu lama sebelum Digo, Kevan, dan Raka muncul di pintu, berlari tergesa-gesa dengan wajah penuh kegembiraan dan keterkejutan.

"Gimana?!" teriak Kevan begitu membuka kamar private itu dan disuguhi pemandangan dokter yang seperti baru saja memerika keadaan sahabatnya itu.

Dokter tersenyum tipis, menenangkan suasana yang penuh emosi di dalam ruangan. Ia menatap semua orang di sana dengan pandangan yang meyakinkan sebelum berbicara.

"Kondisinya sudah cukup stabil," ujar dokter sambil melirik ke arah Erlang yang masih berusaha memahami situasi di sekitarnya. "Kesadarannya sudah sepenuhnya kembali dan ini adalah tanda yang sangat positif. Namun, perlu diingat bahwa setelah koma selama enam bulan, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi."

Ia melanjutkan dengan nada yang tenang dan serius, "Kemungkinan akan ada beberapa kesulitan, seperti kelemahan otot atau kebingungan sementara, yang wajar dalam kondisi seperti ini. Kami akan memulai terapi fisik dan kognitif secara bertahap untuk membantu proses pemulihan. Untuk saat ini yang paling penting adalah memberikan dukungan moral dan memastikan ia tidak merasa terbebani dengan terlalu banyak informasi atau pertanyaan."

Gue Figuran? | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang