Apakah kalian masih ingat bahwa Thea memiliki ketertarikan yang aneh terhadap segala hal berbau mafia dan aksi berbahaya?
Ketertarikan itulah yang membawanya bergabung ke dalam organisasi gelap milik Arsean, tunangan sahabat dekatnya, Harvey, setelah menyelesaikan kuliah di jurusan psikologi. Meski awalnya ia hanya ingin tahu, kini ia menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang penuh intrik tersebut.
Sudah lima tahun berlalu sejak itu. Kini di usia 25 tahun, Thea berdiri memandangi sosok yang telah sering menjadi partnernya dalam berbagai misi organisasi. Dari awal ia bergabung hingga sekarang, lelaki itu sering kali ada di sisinya.
"Lo lagi?" keluh Thea menatap sinis pria di hadapannya. Usianya sudah menginjak 26 tahun dan kini ia terlihat lebih matang dibanding pertama kali mereka bertemu.
Kevan, lelaki yang kini sudah menjadi partner kerjanya dalam organisasi hanya tersenyum tipis sambil mengangkat bahu. "Mereka bilang kita punya chemistry yang bagus," balasnya ringan.
Thea mendengus. "Mereka pasti buta."
"Serius? Faktanya, setiap misi gila yang mereka kasih ke kita selalu selesai dengan sukses. Itu bukan kebetulan, kan?" Kevan mengangkat satu alis dengan nada menggoda.
Thea tak tahan untuk tidak menanggapi. "Kalau gitu, gue tanya deh, kenapa lo terjun ke dunia kayak gini?"
Pertanyaan itu membuat Kevan terdiam sejenak. Bahunya sedikit menegang, tapi ia berusaha menutupi. "Emang nggak boleh?" jawabnya dengan nada sinis sambil menatap Thea tajam.
Melihat reaksi Kevan, Thea memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia mengalihkan pembicaraan. "Oke, balik ke misi. Lo udah ada rencana atau belum?"
"Rencana apa? Ambil aja paketnya," jawab Kevan santai. "Lagipula ini cuma paket salah kirim, walaupun katanya isinya dokumen penting."
Thea mendengus lagi. "Gue masih bingung kenapa kita selalu disatukan, entah buat misi besar atau receh kayak gini."
Mereka berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan untuk misi. Meski terdengar sederhana, Thea tahu betul bahwa dunia mafia tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk lengah. Kali ini, tugas mereka adalah mengambil paket berisi dokumen rahasia tentang jaringan mafia yang entah bagaimana bisa terkirim ke alamat orang biasa.
"Kalau dokumen itu jatuh ke tangan yang salah, organisasi bakal kacau, Kev. Jadi ini nggak se-remeh yang lo pikir," ujar Thea saat mereka memasuki mobil.
Kevan menyeringai. "Santai aja. Gue yakin lo nggak akan biarin hal itu terjadi."
Meski Thea mendengus kesal mendengar nada percaya diri Kevan, dalam hati kecilnya ia tahu Kevan benar. Mereka memang punya chemistry yang tak bisa disangkal—meski sering kali itu justru membuat Thea ingin menonjoknya.
Mereka pun duduk di dalam mobil hitam yang diparkir dengan posisi strategis di seberang gedung apartemen. Di dalam kabin mobil, ketegangan terasa kontras dengan suasana santai Kevan yang terus memutar-mutar pisau lipat kecil di tangannya. Ia bersandar di kursi dengan ekspresi penuh percaya diri, seolah-olah misi ini tak lebih dari hiburan singkat.
Di sebelahnya, Thea sibuk menatap layar tablet yang menampilkan profil salah satu penghuni gedung. Matanya fokus membaca data sambil mengerutkan kening. Helaan napas frustrasi akhirnya lolos dari bibirnya, menarik perhatian Kevan.
"Paket itu diterima oleh Pak Rendi," ujar Thea tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Guru matematika. Orang biasa, nggak punya catatan kriminal, tapi kalau dia sampai buka paket ini ...." Ia berhenti, menggantungkan kalimatnya. "Kita selesai."
Kevan mengangkat bahu tanpa beban. "Lo terlalu tegang. Kita cuma perlu ketuk pintu, bilang ada paket salah kirim, ambil barangnya, dan selesai." Nada suaranya seolah menunjukkan bahwa semuanya bisa diselesaikan dalam lima menit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue Figuran? | END
Teen Fiction⚠️ Warning 18+ Grace Aradina Diandra, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terjebak dalam dunia novel dan menjadi figuran yang hanya disebut-sebut untuk melengkapi cerita. Di dunia baru ini, ia menempati tubuh seorang gadis bernama, yang sepertinya d...
