II. Endless Love
Beberapa waktu setelah semua kekacauan berlalu, untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Harvey merasakan kebahagiaan yang begitu murni membuncah dalam dadanya. Perasaan itu mengisi setiap ruang kosong yang dulu dihuni oleh kegelisahan, ketakutan, dan bayang-bayang masa lalu. Seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa lega yang menenangkan.
Pagi itu terasa berbeda. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, menyelimuti dunia dengan cahaya hangat yang lembut. Angin pagi berembus pelan, membelai wajahnya dengan kesejukan yang jarang ia nikmati sebelumnya. Harvey duduk di kursi balkon, menyesap teh chamomile hangat yang aromanya menenangkan. Asap tipis mengepul dari cangkirnya, berpadu dengan udara segar yang menyegarkan paru-parunya.
Tidak ada lagi konspirasi yang harus ia pecahkan. Tidak ada lagi dendam yang harus ia tanggung. Tidak ada lagi ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Untuk pertama kalinya, ia bisa benar-benar menikmati keheningan tanpa dihantui rasa cemas.
Sudah cukup. Selama ini, ia terus hidup dalam bayang-bayang, berusaha melindungi semua orang tanpa pernah benar-benar memikirkan dirinya sendiri. Kali ini, ia ingin sedikit egois. Ia ingin menikmati hidupnya, membiarkan dirinya merasakan kebahagiaan tanpa harus khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat melingkari pinggangnya dari belakang. Sentuhan itu familiar, menenangkan, membawa rasa nyaman yang tak bisa ia temukan di tempat lain.
"Morning, Grace," bisik sebuah suara dalam dan lembut di telinganya.
Harvey tersenyum tipis. Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah pria yang kini menyandarkan dagunya di bahunya. "Morning, sayang."
Arsean—atau Sean, seperti yang biasa ia panggil—duduk di sebelahnya. Pria itu sudah mengenakan setelan jas rapi, siap untuk bekerja. Akan tetapi, seperti biasa, Sean selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke kediaman Davies setiap pagi, seolah itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
"Mau ngapain hari ini?" tanya Sean santai, matanya menatap Harvey dengan lembut sebelum menyandarkan kepalanya ke pundaknya.
Harvey tersentak kecil dari lamunannya, lalu mengangkat bahu. "Nggak tau, tapi rasanya aneh. Biasanya tiap bangun pagi aku udah ribet mikirin urusan orang lain. Sekarang malah bingung mau ngapain."
Ia menghela napas pelan. Dulu, setiap hari terasa seperti medan perang. Ia harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk, harus selalu berpikir selangkah lebih maju untuk menghindari kehancuran. Tapi sekarang? Semua itu hanya tinggal kenangan.
Sean tertawa pelan, suaranya dalam dan menenangkan. "Itu tandanya hidup kamu udah lebih damai. Sekarang kamu nggak harus mikirin apa-apa selain diri kamu sendiri."
Harvey menatapnya. "Tapi, aku harus mulai dari mana?"
Sean mengangkat wajahnya sedikit, menatap Harvey dalam-dalam sebelum tersenyum dan mencium ujung hidungnya dengan lembut. "Mulai dari yang kecil aja. Jalan-jalan, makan enak, shopping, atau ngelakuin hal-hal yang dulu kamu tunda."
Harvey tertawa kecil. "Kedengerannya kayak hidup normal banget."
"Ya, karena kamu pantas dapat itu," jawab Sean sambil menggenggam tangannya erat.
Harvey terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. Ia sudah terlalu lama hidup dalam ketegangan, terlalu lama merasa bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak bisa ia miliki. Tapi sekarang, di sini, dengan Sean di sisinya, ia mulai percaya bahwa semua itu bisa berubah.
Ia menatap secangkir tehnya yang masih mengepul, lalu menyesapnya perlahan. Rasa hangat itu menyebar di tenggorokannya, membawa ketenangan yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar bebas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue Figuran? | END
Teen Fiction⚠️ Warning 18+ Grace Aradina Diandra, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terjebak dalam dunia novel dan menjadi figuran yang hanya disebut-sebut untuk melengkapi cerita. Di dunia baru ini, ia menempati tubuh seorang gadis bernama, yang sepertinya d...
