Happy reading!
***
"Hari ini aku tinggalkan semua hanya untukmu."
Langit semakin gelap di atas sana. Awannya mengepul, bergerak perlahan membentuk gumpalan abu-abu pekat. Hanya beberapa detik lagi dipastikan hujan deras pasti akan mengguyur seisi Brussels.
Sang supir yang ditugaskan untuk menjemputnya di bandara kini menyalakan penghangat hingga udara dingin yang semula menusuk pori-pori perlahan-lahan berhasil dinetralkan. Pandangannya mengarah keluar kaca, pada jalanan macet dan dipenuhi orang-orang. Rupanya ada semacam festival atau parade seni yang sedang berlangsung di kota. Ini pertama kalinya ia ke Brussels dan disambut oleh gadis-gadis dengan pakaian ala bangsawan Perancis yang tengah melakukan tarian, para pemusik yang sedang meniup terompet, bunga warna-warni yang mekar di tiap lajurnya, mobil-mobil berisi anak-anak dengan umbul hijau dan hujan yang akhirnya turun.
Yang membuatnya terkesan, tak ada satu pun dari mereka yang berlarian untuk berteduh. Festival tetap berlangsung, tapi hanya beberapa wisatawan yang memilih untuk melindungi diri mereka dari hujan dan menonton dari jarak jauh.
"Apakah kau sudah merasa hangat, Nona?" tanya si supir berjas hitam.
"Sudah, terima kasih. Festival apa ini?"
"Iris day," jawab si supir. "Perayaan tahunan untuk memperingati keindahan dan keragaman bunga iris. Diadakan pada bulan Mei, ketika bunga iris sedang mekar di seluruh Belgia. Maaf kalau perjalanan jadi sedikit terhambat."
"Tidak apa-apa, aku menikmatinya." katanya sambil memberikan senyum kecil. Setelah itu si supir berkebangsaan Cina itu pun kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Hujan yang semakin deras akhirnya membuat semua orang menyerah. Mereka lari kocar kacir sehingga jalanan semakin macet.
"Apa Brussels sering hujan?"
"Tidak juga, dalam sebulan ini, baru hari ini." jawab si supir.
"Kurasa kita akan terlambat, apa tidak ada jalan pintas?"
"Maaf, Nona. Tidak ada. Saya akan menghubungi Tuan Leonelle untuk memberitahunya."
Hampir sebagian besar orang yang mendengar nama Leonelle pasti langsung terlintas pada beberapa hal.
Narkotika. Bandar narkoba. Penjahat.
Mereka secara turun temurun telah mengelola bisnis haram tersebut baik di tempat asal maupun di negara-negara lain. Narkoba seperti sudah menjadi darah dalam daging sehingga tak ayal jika organisasi mereka menjadi yang terbesar. Mereka dihormati, disegani dan ditakuti. Namun pada era Sergio yang baik hati, organisasi tersebut malah membelot dan bekerjasama dengan Interpol untuk memberantas mafia-mafia lain. Sergio berhasil mengubah citra klan Leonelle di mata publik. Namun tak bertahan lama. Sayangnya kebaikan tersebut tak diwarisi oleh putra pertamanya, Juan Leonelle. Ketidakpuasan dan keserakahan telah membutakan mata Juan hingga memicu perang kartel dan pembantaian besar-besaran terhadap klan mereka. Begitu banyak yang tewas, begitu banyak yang hilang. Termasuk Juan dan istrinya, dua anak kembarnya serta dua adiknya yang hingga sudah bertahun-tahun lamanya, belum ada satu pun yang tahu keberadaan dan nasib mereka. Entah masih hidup atau tidak. Namun begitu, tak banyak yang percaya bahwa organisasi mereka ikut menghilang. Tak semudah itu memusnahkannya. Orang boleh mati, tapi selalu ada yang mengelola bisnis.
Itu adalah sepenggal dari cerita yang didengar oleh Kashi tentang mereka.
Dan hari ini, ia berada di kota yang 4.933 mil jauhnya dari Seattle, setelah menerima tawaran pekerjaan untuk menjadi psikiater pribadi Kiev Leonelle, putra Juan Leonelle.
Untuk mengisi waktu saat kebosanan mulai menjalar, ia mengambil sebuah map dari dalam tasnya. Disana tertera data diri Kiev. Nama, berat badan, tinggi badan dan rekam medis. Namun tak ada foto sama sekali. Bahkan setelah menghabiskan seharian untuk mencari di internet, tak satu pun ada artikel yang memuat foto laki-laki itu. Berita tentang Kiev hanya seputar dirinya saat masih kanak-kanak dan dinyatakan hilang. Ia pikir hanya kondisinya saja yang dirahasiakan, tapi ternyata semuanya menjadi rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang dibiarkan tahu bahwa dia masih hidup, bahkan tumbuh menjadi laki-laki yang tampan. Kata dokter Shu, Kiev Leonelle yang paling tampan di antara keturunan-keturunan Leonelle yang pernah ada. Kashi sempat bertanya-tanya bagaimana ceritanya sehingga dokter Shu bisa bergaul dengan para bandar narkoba ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
Roman d'amourLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
