Chapter 58 - tourmenté

26.7K 1.7K 489
                                        

"There were two types of love. The kind you would kill for. And the kind you would die for. But you, my darling, you were the kind of love I would live for."

Sambil memegangi selimut putih yang menutupi dadanya, Kashi berjalan menghampiri Kiev yang sedang berendam di dalam bathtub air hangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sambil memegangi selimut putih yang menutupi dadanya, Kashi berjalan menghampiri Kiev yang sedang berendam di dalam bathtub air hangat.

"Kemarilah." pinta Kiev sembari mengulurkan tangannya.

Lantas Kashi membiarkan selimut itu meluncur jatuh ke lantai sebelum tangannya menyambut tangan Kiev ketika ia memasukkan sebelah kakinya ke dalam bathtub.

Jejak-jejak intim yang ditinggalkan selama tiga puluh menit yang lalu masih terasa disetiap inci kulitnya. Itu adalah seks penuh perasaan yang pernah ia rasakan, liar, berhasrat, namun lembut di waktu yang sama—seks antara sepasang kekasih yang telah lama berpisah. Kau tahu seperti apa rasanya. Sejak apa yang terjadi padanya di masa lalu, hanya Kiev yang mampu menunjukkan seperti apa rasanya melakukan hubungan seksual dengan pria yang benar-benar mencintai. Tak ada yang lebih nikmat daripada saat cinta dan nafsu berkumpul di atas tempat tidur. Kashi tersenyum, lalu menyandarkan punggungnya pada dada Kiev. Ia menoleh ke samping untuk menerima kecupan di pundaknya. Jarinya kini mengambil sebatang rokok dari kotak dan membiarkan Kiev membakar ujungnya menggunakan pemantik yang sedang menyala sebelum pria itu membakar satu untuk dirinya sendiri.

Lalu mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.

"Polisi itu sudah tahu, kan, kalau aku yang membunuh Amelia dan Dahlia?" tanya Kashi kemudian.

Kiev menghembuskan asap rokoknya pelan. Bahasa tubuhnya sudah menjawab pertanyaan Kashi.

"Aku bertemu Amelia saat dia datang ke rumahmu menemui Armando. Tak sengaja kudengar mereka berdebat tentang Tsavo. Amelia selama ini mengkonsumsinya dan dia kehabisan uang untuk membelinya. Lalu aku mengikutinya dan berbincang-bincang dengannya di kelab sebelum aku merasakan keinginanku untuk menghabisi nyawanya membuncah di dalam diriku."

Seperti yang selalu ia lakukan saat Kashi sedang bercerita. Kiev tak pernah menyela.

"Dia bilang kekasihnya yang mengenalkan Tsavo," sambung Kashi. "Dan saat itu kubilang padanya aku bisa membuatnya lebih tenang. Entah seberat apa Tsavo telah membawanya terbang, tapi dia mengizinkanku menyuntikkan obat penenang dalam dosis tinggi."

Malam itu, saat berpikir Kashi sudah tidur, Kiev mencuri waktu untuk tidur sejenak. Ia lengah dan tak berhenti menyesalinya.

"Lalu Armando mulai melaporkan kematian adiknya itu ke polisi. Aku tahu diam-diam kau memberinya banyak uang dan mengusirnya pergi sejauh mungkin. Namun rasanya aku tak puas hanya sampai disitu. Malam terakhir dia di rumahmu, aku datang ke kamarnya dan kusuntikkan obat penenang sebelum kubakar dia disana."

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang