Mobil yang Kashi tumpangi telah keluar dari kota Brussels. Entah kemana ia akan dibawa, ia tak ingin tahu.
Setelah apa yang dialaminya, ia seperti di tampar oleh kenyataan bahwa selama ini mungkin dirinya telah meremehkan kekuasaan yang dimiliki Harsh. Dia adalah jenis pria yang bisa memerintahkan orang untuk membakar rumah beserta isi di dalamnya dalam satu jentikan jari. Dia tak memikirkan nyawa orang sama sekali. Tak mengherankan saat dia tahu Kashi pernah melakukan usaha bunuh diri pun reaksinya biasa saja. Pria itu tampaknya memang tak punya hati dan terlalu egois. Alih-alih meminta maaf atau paling tidak berdamai dengannya, dia malah melakukan hal gila lainnya dengan pernikahan paksa ini.
Dan kini setiap perkataan pria itu terngiang-ngiang di telinganya, tanpa sadar telah memengaruhi pikirannya. Kashi mulai mempertanyakan sesuatu yang tadinya dianggap lelucon. Seandainya suatu saat ia berhasil menyembuhkan Kiev, apakah bayang-bayang Harsh dan segala perbuatan gilanya akan tetap bertahan di dalam pikirannya? Seandainya suatu saat ia menikah dengan laki-laki lain, apakah pernikahannya dengan Harsh akan menjadi bekas yang tak akan hilang?
Tapi akhirnya Kashi paham itulah yang diinginkan Harsh; membuat dirinya tak terhapus dari benaknya dan kapan pun akan menjadi teror yang terus menghantuinya.
Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah yang tak kalah megah. Pilar-pilarnya yang kokoh berdiri tegak menopang bangunan itu. Bagian dalamnya luas namun tak ada perabotan seperti yang seharusnya. Tak ada pigura, lukisan apalagi foto di dindingnya yang di cat dengan warna abu-abu tua. Bahkan tak ada permadani di atas hamparan lantai marmer yang mengkilap dan licin. Saat Kashi menunduk ke pantulan dirinya, ia melihat langkah kaki yang sedang mendekat di belakangnya.
Tiba-tiba sentuhan panas dari jemari pria itu menjalar turun dari bahu Kashi menyusuri garis lengannya bersamaan dengan ujung hidungnya yang bergerak menyusuri nadi di leher. Tubuhnya berdesir begitu saja.
"Selamat datang di rumah baru," ucap Harsh di telinganya. Lalu dia melanjutkan seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kashi. "Kubiarkan kosong agar kau bebas menatanya sesuai dengan keinginanmu."
Siapa peduli? Kashi tak ingin menanggapinya. Berada di tempat ini rasanya seperti berada di kediaman seorang bandar narkoba kejam dan tak berperasaan, seperti yang dulu pernah ia bayangkan ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Brussels.
"Itu cita-citamu." tanya Harsh.
"Bukan lagi."
"Tidak masalah, kau masih bisa melakukannya."
"Aku psikiater. Kau lebih baik mencari orang yang memang bekerja di bidangnya."
"Ada seribu penata ruang di negeri ini, tapi aku ingin kau yang melakukannya. Anggaplah aku klien pertamamu. Aku akan membayar berapa pun yang kau minta."
Kashi hanya menghela nafas.
"Bayangkan saat lemari pakaian yang kau pesan tiba, kau akan meletakkannya di kamar kita beserta ranjang yang besar. Bayangkan kau memerintah pegawaimu untuk menggantungkan lampu-lampu kristal di plafon. Dan menggeret meja makan yang luas dengan kursi-kursi bergaya klasik tempat kita makan malam. Disudut sana kau bisa meletakkan rak buku untuk koleksi novelmu. Aku akan menemanimu membaca sambil memandangi kecantikanmu dari kursi yang lain. Kau bisa meletakkan sofa empuk di depan TV yang akan kita gunakan untuk bersantai di sore hari sambil meneguk anggur, ataupun—" Harsh mendekatkan bibirnya lebih dekat dan berbisik. "—kau sudah cukup dewasa untuk tahu apa saja yang bisa dilakukan di atas sofa."
Pria itu hampir berhasil menghipnotis dengan ucapan-ucapan manisnya. Bayang-bayang akan cita-cita Kashi masa muda itu digambarkan dengan sangat indah olehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
Storie d'amoreLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
