Onggokan kain renda berwarna hitam itu jatuh di lantai.
Jantungnya seakan pecah berhamburan ketika wajah pria itu terbenam di antara kedua pangkal pahanya. Kepalanya terdongak ke atas dengan mata terpejam dan tangan mencengkram sprei. Ia tak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya mampu membiarkan matanya kembali terbuka untuk menyaksikan cara dua manik mata tajam itu memandanginya sambil terus memberikan kepuasan di bawah sana.
Ciuman yang bertubi-tubi telah menyulut gairah membara dalam aliran darahnya. Lidah basah nan panas itu kini bergerak memutar, tak membiarkan satu inci pun terlepas dari sentuhannya. Pahanya bergetar, pegal dan keram bukan kepalang. Ia merintih dan mengigil oleh rasa geli yang menggelitik. Bola mata Kiev rupanya masih memerhatikan wajah Kashi tapi lidahnya tak berhenti bekerja. Kedua tangannya yang mencengkram pinggul Kashi kini berpindah menyusuri pinggangnya yang ramping lalu berhenti pada buah dadanya yang cantik dan meremasnya gemas. Kashi mau tak mau harus berpegangan pada pergelangan tangan Kiev ketika pria itu mulai mencumbu bagian paling sensitif itu semakin liar dan semakin jauh ke dalam sana.
Otot-ototnya menegang dan tubuhnya menggelinjang untuk menghindari serangan intim itu. Ketika lidah Kiev berhasil menyentuh titik tertentu lalu menghisap dengan liar, Kashi bergerak gusar sambil melolongkan desahan dan reflek membuka pahanya lebih lebar, sebagai tanda bahwa ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada pria itu. Dadanya membusung tinggi. Ia menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari posisi untuk menghindari rasa nikmat membabi buta saat pria itu terus menjilati klitorisnya tiada henti.
Ia memohon agar Kiev berhenti menyiksanya. Tapi pria itu seperti tak tahu caranya berhenti.
Melihat kegelisahan Kashi, Kiev semakin enggan melepaskannya. Ia suka menyentuh kulit halus, basah dan mulus milik wanita itu dengan lidahnya. Tubuhnya sempurna, kulitnya cerah tanpa ada setitik noda pun disana. Dia sangat cantik. Apalagi saat dia sedang diterjang birahi dan tak bisa melakukan apa-apa di bawah kekuasaannya, pipinya merona, bibirnya yang merah terbuka setengah, urat-urat lehernya bermunculan saat dia menengadah sambil terpejam.
Lalu di dalam mulutnya, ia merasakan tekanan kuat dan sentakan bertubi-tubi ketika Kashi akhirnya mencapai puncaknya.
Baru setelah Kashi berhasil menenangkan pahanya yang gemetaran, Kiev melepaskan diri dari sana. Pria itu memandanginya dengan bola mata memabukkan sambil naik perlahan-lahan mengecup pusarnya, lalu perutnya, dadanya, lehernya, rahangnya hingga dia berhenti dalam jarak lima sentimeter bertumpu dengan kedua tangannya yang membingkai wajah Kashi. Kiev tak mengatakan apapun lagi saat ia kembali membuka mulutnya untuk melumat bibir Kashi. Sembari membuka paha wanita itu, ia menuntun dirinya sendiri menyatu di bawah sana. Tubuh Kashi tersentak dengan lembut menerima sesuatu yang begitu kuat, kokoh dan keras di dalam dirinya. Ia nyaris tak bisa bernafas ketika pria itu mulai bergerak menanamkan miliknya lebih dalam dan semakin dalam.
Kashi menggigit pundak Kiev sambil terus menggoyangkan pinggulnya seirama dengan entakan liar pria itu.
Mereka tak tahu selama apa percintaan berlangsung. Keduanya bak tenggelam dalam pusaran birahi yang semakin lama semakin membumbung tinggi. Dua tubuh menyatu dalam satu gairah yang membara menyambut kenikmatan surgawi yang tiada tara. Kiev tak berhenti menghujam. Sesekali matanya beralih memandangi miliknya yang keluar masuk dengan liar di dalam inti Kashi yang semakin merona. Lalu dalam satu gerakan cepat, ia membawa Kashi dalam posisi duduk. Kedua tangan wanita itu langsung memeluk kepalanya sambil bergerak naik turun mencecap nikmatnya bercinta.
Kashi merengkuh wajah Kiev sambil memberikan sebuah senyum pada pria itu. Ia tak bisa lagi menggambarkan dengan kata-kata betapa tampannya ciptaan Tuhan yang satu ini. Tubuhnya begitu gagah, sama seperti saat dia menggagahinya saat ini. Bibirnya begitu liar seliar saat dia mengulum buah dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomansaLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
