Seattle, USA
"Maaf sudah menghubungimu, aku tak akan melakukannya kalau tahu kau akan pulang. Padahal sudah kukatakan bahwa dia baik-baik saja."
"Aku justru akan sangat marah kalau kau tidak menghubungiku, Bibi Micka." sahut Kashi sambil mengusap lengan ibu tirinya itu. Lalu ia kembali memandangi Lily Rose yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. "Bagaimana kejadiannya?"
"Dia pergi mengejar Denver ke seberang jalan dan pemotor itu tak sempat menginjak rem," Bibi Micka menghela nafasnya. "Tapi syukurlah kata dokter tidak ada yang fatal."
"Kenapa kau mengejarnya? Bukankah sudah kukatakan bahwa kucing itu pasti akan kembali pulang?" kata Kashi pada Lily Rose.
"Tidak," Lily Rose menggeleng dengan wajah cemberut. "Kemarin dia juga kabur dan tidak mau pulang."
"Dia pasti pulang."
"Kenapa dia kabur dariku padahal aku sudah memberinya banyak makan dan tempat tidur yang bagus? Apakah aku kurang baik?"
"Lily Rose," Kashi membelai rambut coklat adik tirinya itu. "Mungkin Denver hanya ingin mencari teman. Dia pasti sesekali bosan berada di rumah terus."
"Tapi aku temannya."
"Tentu, kau memang temannya. Tapi kau bukan kucing. Kau harus berubah jadi kucing dulu kalau mau terus bersama Denver. Miaww!" Kashi mencubit pipi Lily Rose sambil membuat gelagat kucing sampai anak itu tertawa. "Apa kau mau berubah jadi kucing?"
Anak itu menggeleng. "Tapi kalau Denver pergi lagi, aku akan sangat sedih."
"Denver tak akan pergi, karena kau yang terbaik."
"Kashi benar," kata Bibi Micka. "Kau tak boleh terus mengurungnya, sayang. Lagipula kalau kucing itu tidak kembali, kita bisa cari kucing lain, kan? Di dunia ini ada puluhan ribu kucing. Tahu tidak? Dulu saat kecil aku dan ayahmu selalu pergi ke hutan dan membawa pulang seekor anak kucing."
Lily Rose menggeleng lagi. "Aku sudah sayang pada Denver. Aku tak mau menggantinya dengan yang lain."
Bibi Micka mengangkat bahunya pasrah sembari berjalan mengitari ranjang lalu merapikan peralatan makan Lily Rose.
"Aku lupa!" seru Lily Rose. "Aku belum memberinya makan siang!"
"Astaga anak ini—"
"Dia harus makan sekarang."
"Sekarang pikirkan dirimu sendiri, Lily Rose. Jangan terlalu terobsesi pada sesuatu. Itu tidak baik untuk siapapun." kata Kashi serius.
Lily Rose kembali memasang wajah cemberut. Lalu berkata dengan nada sedih. "Apa Denver akan menyayangiku seperti aku menyayanginya nanti?"
"Tentu saja, sayang. Dia pasti sedang berdoa supaya kau segera pulih."
Lily Rose tersenyum lebar lalu merentangkan tangannya dan Kashi langsung mendekat untuk dipeluk. "Aku merindukanmu. Rumah jadi sepi tanpamu dan aku benci pada Matthias. Apa aku boleh ikut ke Brussels?"
"Siapa yang akan menjaga Denver kalau kau pergi?"
"Tentu saja aku akan bawa dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
عاطفيةLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
