Halo again! Hihi ayo kita lanjut lagi ceritanya, jangan lupa vote dan comment nya ya ;)
***
"Zacharias telah menemukan beberapa orang yang berbisnis dengan Bill Van Burren. Namun dia yakin itu belum semua. Kabarnya Bill tak hanya jual Tsavo kepada Rui Lander di Brussels, namun juga pada salah satu orang kaya di Seattle. Dia akan kabari lagi jika sudah dapat namanya."
"Kita harus segera bereskan kekacauan ini. Jangan ada satu orang pun yang tersisa. Bersihkan sampai ke akarnya."
Timothi mengangguk lalu berkata setelah beberapa saat. "Ada hal lain yang ingin kusampaikan."
"Katakan."
"Kenya ada disini, dia ingin bicara tentang August. Menurutku dia ingin minta bantuan. Namun jika Anda tak ingin menemuinya, aku bisa menyuruhnya pergi."
Harsh menjawabnya dengan sebuah telengan kepala sehingga Timothi pun memerintahkan salah satu orang mereka untuk membawa Kenya ke ruangan tersebut. Ia baru saja duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya ketika wanita itu masuk.
"Saudariku," sapa Harsh dengan sebuah senyum tipis. "Bagaimana kau tahu aku berada disini?"
"Kashi memberitahuku."
"Jadi, apa yang bisa kubantu?"
Kenya tahu bahwa dirinya benar-benar sudah hilang akal sehat ketika memutuskan untuk datang ke salah satu kediaman Harsh yang diketahuinya memang dengan maksud untuk meminta bantuan. Namun ia sudah tak punya cara lagi. Bahkan seandainya yang ia lihat sekarang adalah Kiev pun, sama seperti dirinya, saudara kembarnya itu tak dapat melakukan apapun atas masalah yang sedang menimpa.
Mengambil nafas setelah duduk di hadapan Harsh, Kenya pun mengutarakan maksud kedatangannya. "Kau pasti sudah tahu bahwa Esmond Santos menangkap August."
"Lalu?"
"Mereka mengirimkanku video. Mereka menyiksanya. Esmond Santos ingin barang yang kami curi dikembalikan secara utuh. Namun kami terlanjur memusnahkan semuanya. Tapi andai kami mengembalikannya pun, Santos pasti tetap akan membunuh August."
"Tak perlu bertele-tele. Apa yang kau inginkan dariku?"
Kenya menatap Harsh beberapa saat sementara bibirnya terasa begitu sulit untuk berucap. "Aku butuh orang-orangmu untuk menyerangnya."
Harsh mengangguk dan tersenyum tipis sebelum ia kembali menghisap rokok di tangannya. "Kini kau butuh orang-orangku, yang kalian anggap musuh."
"Aku tahu, Harsh. Namun mereka menyiksa August. Kau akan membiarkannya mati?"
"Tenanglah, jika dia mati, dia akan dikenang sebagai pahlawan. Bukankah itu yang kalian mau?"
"Apa yang kulakukan sekarang sangat memalukan tapi aku tak peduli, Harsh. Aku sangat berharap bantuanmu."
"Aku tak bisa sesuka hati menyerang orang lain apalagi yang tak bermasalah denganku. Tak ada untungnya bagiku malah sebaliknya."
"Kau tak akan melakukannya secara cuma-cuma. Suatu hari aku akan membayarnya."
"Dengan apa?"
Bola mata Kenya terkunci di dalam tatapan Harsh yang menuntut sebelum ia mengucapkan. "Apapun."
"Bubarkan kelompokmu. Hanya dengan begitu aku akan membantu. Dari dulu hanya itu yang kuinginkan. Kalian orang-orang yang tak berguna."
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomansaLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
