Temps de Bruxelles- Esmond Santos dan putrinya, Francia Santos ditembak mati oleh dua pria bersenjata pada Senin (5/2) pagi waktu setempat. Insiden penembakan itu terjadi di kediamannya, Roeselare, Brussels.
"Perang balas dendam yang terkait dengan geng narkotika yang di pimpin oleh Toti dan Tezar Barajas harus dimainkan di kota Brussels benar-benar mengejutkan. Kejadian tembak menembak ini telah menewaskan Esmond Santos dengan empat peluru di wajahnya. Namun yang menyedihkan, Francia Santos sedang dalam kondisi hamil empat bulan ketika dia ditembak dua kali di perutnya. Pihak berwenang dengan serius akan menindaklanjuti pembunuhan keji ini dan menjatuhi hukuman yang seberat-beratnya kepada siapa saja yang terlibat." demikian pernyataan Kementerian Keamanan Negara Belgia seperti dilansir kantor berita Temps de Bruxelles, Selasa (6/2).
Namun media lokal baru merilis keterangan dari dua saksi yang diamankan bahwa Barajas bersaudara bukanlah dalang utama dari penyerangan dikediaman Santos—
Berita itu menjadi berita utama di setiap stasiun televisi sehingga August muak mendengarnya.
"Sudah selesai, Tuan."
August mengangguk tipis sebagai ucapan terima kasih kepada seorang perawat yang baru saja mengganti perban di wajahnya.
"Baik, saya permisi."
Ketika si perawat sudah menghilang di balik pintu, disaat yang bersamaan, pintu kamarnya kembali diketuk.
"Ini aku Kenya," ujar suara di balik sana. "Bolehkah aku masuk?"
August tak menyahut, namun pintu terbuka pelan-pelan dari luar. Kenya muncul bersama Adriano.
Kenya tak pernah membayangkan akan melihat August dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia seperti tidak sedang berhadapan dengan August Leonelle yang jahil. Yang selalu mengganggunya, bertengkar dengannya, tertawa bersamanya, terkadang bermanja-manja dengannya. Kini pria itu terbaring bersandar di ranjangnya dengan tatapan datar seolah masa depan telah hilang dari jiwanya. Dan hal itu membuatnya lebih terpukul ketimbang saat Bibi Ileana menghubungi dan memberitahu bahwa August telah kembali dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Luka di kepalanya butuh beberapa jahitan akibat pukulan dengan benda tumpul. Lutut kanannya di bor. Beberapa bagian tubuhnya—seperti paha kiri—dibakar dengan lelehan timah. Satu tulang rusuknya patah. Mereka menjepit tangan kanannya dengan linggis.
Dan yang paling parah, mereka melecehkan August secara seksual.
"Adriano, bisakah kau tinggalkan kami berdua saja sebentar?" pinta Kenya.
Adriano mengangguk dengan berat hati sebelum ia keluar dari kamar tersebut. Kenya bergeser mendekati August lalu menyentuh pergelangan tangannya dengan hati-hati.
"Hei, aku benar-benar senang kau kembali dengan selamat." kata Kenya.
August tak membiarkan ucapan Kenya mengambang di udara selama beberapa saat sebelum ia berkata. "Aku tak seharusnya diselamatkan."
"Apa Adriano dan yang lain tahu soal ini?"
"Yang mereka tahu adalah Barajas bersaudara berperang dengan Esmond Santos. Mereka percaya keselamatanmu adalah faktor keberuntungan."
"Malam itu ketika aku tertangkap, aku sudah siap untuk mati demi organisasi. Mati lebih baik daripada hidup seperti ini. Lihat kondisiku."
"Kau akan pulih, percayalah, kau akan kembali menjadi August-ku yang dulu."
Di balik perban yang membalut sebagian wajahnya, rahang August mengeras dan bergetar sementara sorot matanya tetap datar. Ia tak mengatakan apa-apa dan mereka sama-sama diam selama beberapa saat.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomantizmLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
