Ajakan Kiev seketika membawa Kashi kembali lagi ke masa lalu.
"Ayo kita jalan-jalan dan bicara." ucap Harsh setelah selesai memakai celana panjangnya lalu berjalan ke arah Kashi.
Tapi saat itu Kashi langsung bergerak mundur. Matanya masih memandangi dua perempuan telanjang di atas ranjang Harsh. Lalu setelah beberapa detik, barulah ia berani menatap wajah pria itu.
"Mereka hanya pelacur." kata Harsh. "Jauh berbeda denganmu, cintaku."
"Kau tidur dengan mereka. Kau juga tidur denganku. Dimana bedanya?"
Harsh langsung menarik lengannya sebelum ia berhasil melarikan diri keluar dari tempat itu. "Tentu berbeda. Kau kekasihku, kesayanganku, cinta hatiku, segalanya."
Kashi tertawa dan menggeleng. "Simpan ucapan itu untuk wanitamu yang lain."
"Jangan bertingkah. Mereka hanya pelacur, cukup itu saja yang perlu kau pahami. Apa yang kulakukan hanya seks yang tak berarti."
"Bagiku ada artinya," Kashi menyentak tangannya dari cengkraman Harsh dan merasakan bola matanya perih akibat rasa sakit hati dan ketidakpercayaan yang menyergap jiwanya. "Kupikir kau cinta padaku."
"Aku memang cinta padamu. Kau pergi ke Swiss selama berhari-hari. Menunggumu hanya akan membuatku gila. Tak usah jadikan ini masalah besar." kata Harsh yang baru saja memungut baju kaos putihnya.
Bola mata Kashi kembali tertuju pada ranjang. Bahkan dua pelacur sialan itu tak terusik dengan pertengkaran mereka sama sekali. Dan Harsh pun tak terlihat ingin mengusir mereka. Pria itu sungguh telah mematahkan hatinya dengan sangat parah.
"Jangan pernah temui aku lagi."
Harsh yang sedang memakai bajunya berhenti beraktivitas selama sedetik sebelum ia berkata. "Dengar, ayo keluar dari sini—"
Kashi tak perlu menunggu Harsh menyelesaikan ucapannya karena ia sudah lebih dulu melangkah keluar, berjalan cepat ke arah lift dan menyadari bahwa pria itu mengejarnya di belakang. Ia berlari sambil mengerjapkan matanya, tak sanggup menghalau bayang-bayang persetubuhan panas yang telah kekasihnya itu lakukan dengan para pelacur.
Begitu sampai di dalam lift, Kashi memencet tombol berkali-kali, berharap pintu segera tertutup atau Harsh berhasil menjangkaunya.
"Ayolah! Lift sialan!" umpatnya geram. Sementara Harsh semakin mendekat, adrenalinnya berpacu dalam ketakutan dan rasa benci yang berbaur menjadi satu. "Ayolah!"
"Kashi, sekali kau berlari, aku tak akan pernah muncul lagi." kata Harsh.
Lagi-lagi Kashi memencet tombol sementara jantungnya berdetak semakin cepat seiring dengan Harsh yang hanya satu langkah lagi di depannya. Lalu, pria itu berhasil menahan pintu yang sedang menutup pelan-pelan.
"Kashi-ku, dengarkan—"
"Aku tak mau bicara denganmu!"
"Persetan, aku tak peduli." Harsh masuk dan pintu lift pun tertutup rapat.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu saat melakukan threesome dengan mereka? Aku benar-benar tak menyangka kau akan setega ini kepadaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
Roman d'amourLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
