Chapter 9 - maison de prostituée

69.2K 3.9K 156
                                        

Begitu mendarat, mereka langsung menuju hotel Sangri-La Paris.

Kiev dan orang-orangnya disambut hangat oleh staf hotel. Mereka tak perlu melakukan apapun karena sudah ada orang yang dibayar untuk ini dan itu. Salah satu staf menunjukkan jalan ke arah restoran, pada meja yang sudah direservasi. Menu makan siang yang disajikan begitu bervariasi, botol-botol sampanye mahal asal Perancis pun tertata rapi di tengah-tengah meja. Katanya, yang akan melangsungkan pesta pernikahan malam ini adalah anak dari pemilik hotel ini. Tak heran jika sang tuan rumah menjamu Kiev dengan sedemikian rupa.

Namun mereka duduk di meja yang berbeda. Kiev bergabung dengan koleganya yang semuanya memakai setelan mahal dan elegan khas orang-orang penting. Sementara Kashi di meja lain seorang diri.

"Siapa perempuan itu? Dia benar-benar kekasih Kiev?" tanya August sambil memperhatikan Kashi yang sedang memilih-milih kue di prasmanan.

"Namanya Kashi Patlers. Psikiaternya yang baru. Kau ada disana saat ayahmu memberitahu kita."

August mengerutkan kening pada Kenya. "Benarkah? Sepertinya waktu itu aku terlalu sibuk memperhatikanmu sampai-sampai tak menyimak omongan ayah. Lain kali kita tak boleh ada di satu meja, Kenya. Kau selalu berhasil mengambil fokusku, perempuan sial."

"Berhentilah bertingkah menyebalkan."

"Aku tak mau berhenti," kata August sembari memeluk pinggang Kenya dengan manja. "Aku suka sekali bertingkah menyebalkan."

"Jaga sikapmu, August. Adriano ada disini." desis Kenya sembari melepaskan tangan laki-laki itu dari tubuhnya.

"Tak lama lagi juga akan kubuat kalian putus. Tak akan ada pernikahan tanpa restu dariku."

"Kau hanya akan merestuiku jika aku menikahi seekor kambing."

"Ada satu orang, pria ini yang paling kusuka dan aku yakin tidak akan ada yang lebih cocok bersanding denganmu di pelaminan selain dia."

"Benarkah? Siapa pria itu?" tanya Kenya pura-pura tertarik.

"August Leonelle."

Kenya mengangguk-angguk sambil membuka tas dan mengeluarkan berkas yang ia bawa. "Aku lebih baik menikahi kambing dari pada dia. Aku harus menyelesaikan pekerjaan dan butuh ketenangan, jadi tolong tinggalkan aku sendiri."

"Baiklah. Aku akan bergabung dengan Kiev. Dan kau tidak boleh jauh-jauh. Harus selalu terlihat oleh mataku ini." August menggerakkan dua jarinya ke bola matanya sendiri.

"Pergilah."

"Ayolah, janji dulu." rengek August sambil mengacungkan jari kelingkingnya seperti anak kecil. "Ayo janjikan itu padaku."

"Pergilah sebelum Kiev menyadari bahwa kau semakin tak berguna di dalam organisasinya." Kenya mengangkat tangannya ke arah meja Kiev dengan sabar.

August pun beranjak dari kursi sambil membenarkan jaket kulitnya lalu bergabung dengan Kiev. Sementara Kenya mulai menyibukkan diri dengan berkas-berkas pekerjaannya. Ia menghembuskan nafas dan berpikir cara apalagi yang harus dicoba agar August berhenti mengacaukan hubungannya dengan para kekasihnya.

Ia bahkan seratus persen yakin malam ini dirinya tak akan bisa bercinta dengan Adriano.

Lalu ia kembali memperhatikan Kashi. Kenya menghela nafasnya. Tak mengherankan, wanita itu sangat cantik untuk ukuran seorang psikiater yang menghabiskan waktu mereka berurusan dengan orang gila sepanjang hari. Mungkin selain harus pandai mencuri hati pasien, seorang psikiater juga harus berwajah cantik. Ia berharap pertemuan Kiev dengan Kashi akan menjadi kabar baik untuk mereka semua.

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang