Chapter 45 - rendre un baiser

22.1K 1.6K 455
                                        

Kashi berjalan keluar dari keramaian dan menyadari Kiev mengikutinya dengan tenang di belakang. Bahkan ia dapat merasakan tatapan dari bola mata pria itu walau tak berhadapan secara langsung.

Kemudian langkahnya berhenti di depan balkon, larut dalam pikirannya sendiri.

"Apapun yang dikatakan Bibi Ileana, kau tak perlu memikirkannya." kata Kiev setelah beberapa detik membiarkan wanita itu tenang.

Kashi masih saja diam.

"Kita bisa pamit sekarang jika kau mau."

"Kemana?"

"Kemana saja."

"Aku ingin melakukan keduanya," sahut Kashi datar. "Pergi dan berdansa. Tak jauh dari apartemenku, ada sebuah diskotik murahan. Dengan perempuan dan lelaki yang tak pakai pakaian mewah seperti disini. Aku ingin kesana."

"Le Duc?"

Kashi mengangguk, mengiyakan tempat yang ia maksud.

"Apa kau bahkan tahu tempat seperti apa itu?"

"Tak sulit menebaknya," jawab Kashi. "Namun aku malah tak mengira orang sepertimu tahu tempat seperti itu."

"Orang sepertiku justru yang lebih tahu tempat-tempat seperti itu. Aku pernah mengintai seorang pengedar narkoba. Banyak pecandu berbahaya dan cabul disana."

"Cabul? Kita juga bisa menjadi perempuan dan laki-laki berbahaya dan cabul untuk siapapun yang ada disana," Kashi menelengkan kepalanya. "Ayo, bawa aku keluar dari dunia orang-orang kaya yang membosankan ini."

"Asalkan kau berjanji jangan pernah kesana lagi tanpa aku."

"Aku bukan anak kecil, aku tak ingin membuat janji murahan seperti itu. Jika aku suka disana, aku akan kembali lagi bahkan tanpamu sekali pun. Ayo pergi."

Kiev paham suasana hati wanita itu sedang tidak bagus. Ia berjalan lebih dulu keluar dari pintu samping yang mengarah langsung pada sebuah garasi tempat dimana beberapa mobil mewah dan motor terparkir.

Untuk yang kedua kalinya, mereka membelah jalanan malam kota Brussels dengan motor. Tak sampai lima menit berkendara, mereka sampai di Le Duc. Kelab malam itu sangat jauh dari kata mewah. Bangunannya adalah bangunan tua yang mungkin bekas toko kelontong puluhan tahun silam. Tak ada pengawas, tak ada sekuriti. Kashi mengulas senyum saat meraih tangan Kiev, membawanya berjalan lambat ke arah orang-orang yang menari bersama-sama. Seperti bayangannya, kebanyakan laki-laki disana berasal dari kalangan biasa. Karyawan swasta dengan penghasilan pas-pasan, remaja miskin, dan pengangguran. Dengan tampilan mahalnya, Kiev yang paling menonjol dan mencuri perhatian orang-orang disana.

Setiap sudut dari Le Duc punya meja-meja untuk main judi dan pelacur-pelacur murahan yang bertengger menemani laki-laki disana. Lampu-lampunya tak semuanya menyala. Ada beberapa yang sudah pecah dan berkedip-kedip. Seorang bartender bersiul ke arah Kashi saat mereka melewati bar. Seorang pria setengah mabuk berseru dan meminta mereka mengganti musik. Lalu ketika lagu baru di putar, semua orang berteriak dan menari sesuka hati mereka.

"Kau tahu, tempat-tempat seperti ini adalah tempat dimana kau bisa menjadi dirimu sendiri. Semua orang buruk, tak akan ada yang akan menghakimi siapapun." Kashi mulai menggerakkan tubuhnya, menari penuh semangat mengikuti irama musik.

Mereka berhadap-hadapan dengan jarak wajah yang begitu dekat. Bahkan ujung hidung mereka sesekali bersentuhan. Tangan Kiev kembali menyentuh pinggul Kashi ketika wanita itu berbalik membelakanginya. Mereka layaknya burung yang terbang bebas. Menari tanpa aturan, tertawa sesuka hati. Tanpa dapat dicegah, benak Kashi langsung berputar pada momen-momen bahagia mereka ketika Kiev sedang menjadi Harsh. Momen-momen indah yang sangat sulit dilupakannya meskipun ia ingin. Mereka berdua bahagia, seperti sepasang remaja yang dimabuk cinta. Pada kenyataannya Kashi merindukan segala yang mereka lakukan hari itu.

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang