La Joliette, Marseille.
"Sudah ada kabar dari Aristofanes?"
"Belum dan dia tak bisa dihubungi. Aku menghubungi private jet yang seharusnya memberangkatkan Nona Kashi. Namun awak pesawat mengatakan mereka sudah menunggu dan siap terbang namun tak ada siapapun yang datang."
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Perempuan," kata Harsh sembari menuangkan minuman ke dalam gelasnya. "Begitu kita berikan mereka hati, mereka hanya akan semakin besar kepala, banyak tingkah dan selalu ingin menang. Mereka akan marah saat ditinggalkan, namun tak mau ikut ketika diajak. Bahkan Tuhan pun tak pernah tahu apa yang diinginkan perempuan."
Timothi tak ingin berkomentar, jadi ia pun memberitahu. "Orang-orang kita mengadakan pesta di bawah, untuk menyambut Anda."
"Itu tidak perlu."
"Aku tak bisa melarang mereka, mereka ingin menghormati Anda. Dan saat ini mereka lah yang paling kita butuhkan."
"Saat ini aku sedang tak ingin dihormati. Aku lelah mengurus banyak urusan. Aku ingin istirahat, bilang itu pada mereka." suruh Harsh sambil berjalan ke balkon sembari membakar rokoknya.
Timothi lantas tak mengatakan apapun lagi selain keluar dari sana untuk menjalankan perintah tersebut.
Dengan agak marah Harsh membuka lagi dua kancing kemejanya seakan udara malam tak cukup mendinginkan kepalanya yang panas. Malam itu langit tak berbintang, pertanda akan turun hujan. Dari balkon, ia memandangi hamparan kota, membiarkan angin menyentuh kulitnya yang terpapar. Membiarkan rintik yang perlahan-lahan turun membasahi wajahnya. Ia tak berpindah dari sana bahkan saat hujan turun semakin deras.
Marseille, padat, ramai dan banyak tindak kriminal.
Orang disini tak takut kepada polisi, melainkan polisi lah yang takut pada mereka. Diluar menerima suap, mereka berteman, saling membutuhkan satu sama lain. Para bandar membutuhkan kebebasan dan perlindungan, sedangkan aparat membutuhkan uang. Untuk satu perintah dari bandar, mereka dibayar dengan nominal yang hanya akan mereka dapatkan setelah puluhan tahun bekerja. Sebenarnya tak ada bedanya dengan polisi kota mana pun di dunia. Hanya saja, di Marseille mereka tidak menutupinya. Di kelab-kelab malam, bar, dan sudut-sudut kota, mereka membaur, tak segan-segan mempertontonkan keakraban di hadapan orang banyak. Para bandar menyebut mereka anjing berseragam dan para polisi menganggap itu lelucon yang akan mereka tertawakan bersama.
Itulah Marseille. Kota tempat dimana Harsh pertama kali hidup sebagai dirinya.
Usianya mungkin baru tujuh belas tahun ketika ia mendapati tubuhnya tergeletak pingsan di tempat yang gelap. Ia tak tahu siapa namanya, kenapa ia bisa ada disana, tak punya identitas. Ia tak bisa mengingat apapun. Lebih dari sekedar orang yang hilang ingatan, ia seperti bayi yang dibuang. Ia mencoba berdiri, namun tubuhnya terdorong oleh seseorang yang sedang dikejar. Ia menyaksikan dua orang pria berseragam polisi baru saja menangkap laki-laki yang umurnya mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua darinya tersebut. Mereka menyeretnya ke sudut yang gelap. Dari tempatnya berada, Harsh melihat polisi itu memukul dan menampar laki-laki itu namun ia tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan selain umpatan-umpatan. Setelah beberapa saat, dua polisi itu keluar dari sana sambil memasukkan sesuatu ke dalam saku celana mereka.
Harsh mengambil sebilah pisau lalu menghampiri laki-laki yang sedang mengerang sakit tersebut. "Kau tak apa?"
Dia mengumpat terkejut. "Apa maumu, brengsek?!"
"Ini milikmu, kau menjatuhkannya di kaki ku."
"Sial, ya, ini milikku. Seharusnya kau kembalikan tadi, saat anjing berseragam itu menghajarku." tukas laki-laki itu sembari menyambar pisau dari tangan Harsh lalu tanpa mengatakan apapun lagi, dia langsung berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
