Chapter 4 - deux en un

87.8K 4.8K 168
                                        

Kashi baru tertidur menjelang pagi saat kantuk sudah tak bisa diajak berkompromi lagi.

Tak lama kemudian pintunya diketuk. "Nona Kashi, ini saya Helena. Apakah kau sudah bangun?"

"Ya, aku sudah bangun. Masuk saja."

"Selamat pagi, Nona Kashi."

"Selamat pagi."

"Tuan Kiev sudah menunggumu di ruang makan. Apa kau mau makan dulu, atau mandi dulu?"

Jam di nakas menunjukkan pukul tujuh kini. Kashi memilih untuk mandi dulu karena ototnya terasa sangat lelah dan kaku. Lagipula, ia tak lapar. "Aku akan mandi dulu."

Kashi baru saja menurunkan kakinya dari tempat tidur sebelum Helena bergegas masuk ke kamar mandi. "Baiklah, aku akan siapkan air hangat."

"Helena, aku bisa siapkan sendiri."

Helena tersenyum ramah. "Aku tahu, Nona. Tapi ini sudah menjadi tugasku. Tuan Kiev tidak suka pelayan yang makan gaji buta. Dia bisa memecatku kalau tahu aku tak melayanimu dengan baik. Aku punya dua orang anak dan satu orang ibu sakit-sakitan yang harus kurawat di rumah."

"Apakah dia selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Memperlakukan tamunya seperti dia memperlakukanku." tanya Kashi memancing.

"Tuan Kiev tak punya banyak teman yang ia percaya untuk diajak kemari. Dan ya, kalau pun ada, dia memang suka membuat siapa pun merasa nyaman. Apalagi kau adalah orang yang akan membantunya untuk pulih. Sudah sewajarnya, bukan? Permisi." Helena kembali bergegas masuk.

Tapi Kashi lagi-lagi menghentikannya. "Dia tinggal sendiri disini?"

"Dulunya Tuan Kiev tinggal dengan paman dan bibinya di rumah lain. Tapi sudah lima tahun belakangan dia menetap seorang diri disini. Yah tentu saja bersama kami juga. Jadi dia tidak sendirian."

Kalimat terakhir Helena jelas memiliki makna tersirat.

Kashi pun turun dari ranjang sehingga kini ia berdiri tepat di depan sang pelayan. "Kiev bilang kau adalah pelayan pribadiku selama disini dan aku tak perlu sungkan-sungkan meminta bantuanmu. Apa kau mau menggosok punggungku selagi aku berendam di dalam bak?"

"Tentu, Nona. Dengan senang hati." jawab Helena. "Aku akan siapkan peralatan mandi dan juga air hangat."

Kashi akhirnya membiarkan wanita berambut hitam legam yang mungkin hanya dua tahun lebih tua di atasnya itu sibuk melakukan tugasnya di kamar mandi sementara dirinya sendiri berdiri di depan cermin. Tujuannya meminta Helena menggosok punggungnya adalah karena itu satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk bertanya lebih banyak tentang Kiev Leonelle dari sudut pandang orang lain.

Ia jadi bertanya-tanya, seandainya dokter Shu memperlihatkan wajah Kiev, apakah dirinya tetap akan menerima pekerjaan ini mengingat hubungan mereka di masa lalu?

Entahlah.

Menanggalkan gaun tidurnya, ia pun masuk ke dalam bak yang sudah berbusa. Wangi teh hijau yang menguar dari sabun tersebut sungguh menenangkan dan air hangat yang merasuki pori-porinya pelan-pelan berhasil membuat ototnya rileks. Ingin sekali rasanya Kashi menenggelamkan diri di dalam sana— berharap beban di dalam kepalanya ikut tenggelam.

"Kau punya kulit yang sangat cantik." kata Helena yang mulai menggosok belakang tubuh Kashi. Ia tak bermaksud basa basi. Kulit Kashi memang sangat sempurna, begitu murni dan alami. "Banyak sekali perempuan yang bermimpi bisa punya kulit seperti ini."

"Banyak pula yang lebih cantik dari kulitku."

"Tapi sejauh yang kulihat, kulitmu yang paling sempurna."

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang