"They can break me once, but can't break me twice."
***
Api menyala2 membakar kontainer berisi Tsavo di atas kapal. Puing-puing kapal pun mulai ikut berjatuhan ke laut.
Dari kapalnya yang sudah berlayar mendekati dermaga, Kiev menyaksikan semua itu. Api juga ikut menyala dari pantulan bola matanya yang mengkilap dan raut wajahnya yang keras. Sudah lama ia menantikan momen utk melihat narkoba yang telah merusak perempuan yang ia cintai itu benar-benar musnah di depan matanya.
"Kita berhasil!" seru Enric saat mereka melompat satu persatu dari kapal.
"Kita harus merayakannya." kata Adriano.
"Sudah pasti!"
"Bar biasa?"
"Ya, ayo kesana."
"Kau gila? Ini masih pagi."
"Memang kalian mau tunggu sampai malam untuk ini? Tsavo telah musnah, kawan-kawan! Aku tak sabar untuk mabuk dan berdansa sepuasnya." Rashe tertawa senang lalu tatapan kagum yang biasa terlukis di wajahnya saat menatap Kiev, kini tertuju pada luka di lengan kanan pria itu. Sambil berlari kecil untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Kiev, ia berkata. "Kau harus diobati, Kiev. Mau kubantu?"
"Aku bisa sendiri."
Kiev terus berjalan seolah luka bekas sayatan dari salah satu anak buah Matthias di atas kapal tak terasa di kulitnya yang terus mengeluarkan darah karena pikirannya hanya tertuju pada seseorang. Ketika ia sedang melepaskan rompi dan hanya menyisakan kaos hitam di tubuhnya, ponselnya bergetar.
Sebuah nomor asing muncul di layarnya. Namun ia tahu siapa pemiliknya.
"Bagaimana, Mario? Kau dapatkan Matthias?" tanyanya.
Terdengar suara desahan kekecewaan Mario beserta dengan suara hiruk pikuk samar yang terdengar disekitarnya. Langkah polisi yang sibuk berlalu lalang dan suara jepretan kamera dari tim forensik.
"Tidak." jawab Mario. "Matthias tewas."
Kiev menunggu Mario melanjutkan walau firasat buruk seketika menghantamnya.
"Dia tidak ada di penginapan," sambung Mario. "Kami menemukan dia di apartemen Kashi. Tewas dengan lebih dari sepuluh luka tusuk di leher dan dadanya."
"Aku sudah memperingatimu untuk terus menyadap alat komunikasi yang dia miliki dan bersepakat kau akan segera beritahu aku jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana, bukan?"
"Apa yang mampu kau lakukan di atas kapal jika kuberitahu?"
"Bukan kau yang menentukan apa yang mampu kulakukan."
"Bukan kau pula yang menentukan cara kerjaku," balas Mario. "Aku sudah lakukan yang terbaik. Kami menyadap semua alat komunikasi yang dia miliki namun tak ada perubahan selama satu jam. Dari awal aku sudah menduga dia akan menemui adik perempuannya. Aku sudah minta surat perintah untuk menyadap ponsel Kashi tapi ditolak. Sekarang kita hanya dapatkan mayatnya dan kehilangan pembunuhnya."
"Apa itu dapat kau jadikan alasan untuk membenarkan kelalaianmu? Kuserahkan Matthias sepenuhnya untukmu dan aku yang mengurus Tsavo. Jika kalian tidak mengepungnya terang-terangan, dia tidak akan pernah lari kemana pun. Penginapan itu adalah lokasi dimana Matthias akan melakukan transaksi dengan Rui Lander."
Kiev berjalan lebih cepat ke tempat ia memarkir motornya.
"Ini operasi resmi, bukan penyelidikan yang dilakukan diam-diam. Kau paham aturan itu."
"Terserah kau, Mario."
Mario terdengar menghembuskan nafas, ia tahu Kiev tak ingin berdebat. "Satu lagi, kami juga menemukan seorang anak kecil yang ketakutan di bawah meja. Anak perempuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
