"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Sebastian ketika melihat ada memar biru keunguan di tulang pipi kiri dan bekas luka pukul di sudut bibir Kiev ketika keponakannya itu melenggang masuk ke rumahnya.
"Tidak apa-apa."
"Dengan siapa kau berkelahi?"
"Bukan siapa-siapa," jawab Kiev sambil lalu. Namun ia berhenti setelah dua langkah dan berbalik ke arah pamannya lagi. "Paman, apa helikopter milikmu masih berfungsi?"
"Aku tak tahu, sudah lama tak kupakai. Tanya saja Aristofanes. Untuk apa?"
"Aku akan pinjam sebentar hari ini."
"Mau apa kau dengan helikopter?"
Kiev memainkan kunci motor ditangannya namun ia tak menjawab pertanyaan sang paman dan langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Kiev," panggil Sebastian dan Kiev pun berhenti walau tak menoleh. "Bagaimana Kashi?"
"Fine."
"Dan kau sendiri?"
Kiev diam saja.
"Aku dengar tentang yang terjadi di Marseille," kata Sebastian, dan ucapannya berhasil menghentikan langkah Kiev. "Tentang gadis bernama Dahlia." tambahnya.
"Aku akan mengatasinya sendiri, Paman." potong Kiev. "Satu lagi, tolong beritahu Bibi Ileana untuk tidak bicara yang tidak-tidak pada Kashi. Aku tak ingin ada yang ikut campur dalam urusan kami, dari awal sudah kuperingatkan itu."
Sebastian tak mengatakan apapun lagi dan membiarkan keponakannya itu menghilang di balik pintu.
Di dalam kamar, Kiev menanggalkan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Di bawah pancuran air, ia memejamkan mata sambil bertumpu dengan kedua tangannya di dinding, membiarkan tetesan-tetesan air hangat mengalir di permukaan otot-otot kekar tubuhnya, berharap itu dapat meredam segala benang kusut di dalam kepalanya. Ia menyugar rambutnya, lalu menghembuskan nafas berat. Sepuluh menit berlalu, Kiev selesai disana dan keluar dengan handuk putih melingkar rendah di pinggangnya.
Kini, terlalu banyak yang harus ia pikirkan. Ia telah mengabaikan kelompoknya cukup lama. Ia telah melupakan tujuan hidupnya. Dalam beberapa hari kapal milik Matthias Patlers yang membawa tiga ratus kilogram Tsavo akan tiba di pelabuhan selatan. Namun sejak infomasi ini sampai ke telinganya, ia belum sekalipun benar-benar membahas ini dengan kelompoknya. Belum ada siasat dan rencana apapun. Padahal ini adalah momen yang paling ditunggunya. Karena Tsavo lah narkoba yang telah memotivasinya untuk bentuk kelompok ini.
Kiev meraih ponselnya yang bergetar. Satu pesan masuk dari Aristofanes;
Pagi, Senor Kiev.
Saya baru saja menerima pesan dari Senor Sebastian tentang helikopter. Saya akan memeriksanya sekarang dan memastikan Anda bisa menggunakannya paling telat siang ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang dan Kashi masih bergelung di bawah selimut. Sepuluh menit kemudian, ia beranjak bangun dari tempat tidur, membiarkan kimono satin putih tipisnya berantakan dan tak mau repot-repot membenarkan tali gaun tidur sebelah kirinya yang jatuh dari pundak.
Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan ke dapur untuk membuat kopi tepat ketika bel dipintu apartemennya berbunyi. Keningnya berkerut, walaupun sudah bisa menebak siapa yang datang, namun ia tetap membuka pintu sedikit untuk memastikannya.
Dan benar, Kiev berdiri di depan pintu. Pria itu mendekatkan kepalanya sedikit, tersenyum dan berkata. "Selamat pagi, Perempuan cantik."
Kashi membuka pintunya lebih lebar dan mempersilakan Kiev masuk. Pria itu membawa sebuah paperbag yang diduga berisi makanan. Dia berjalan ke arah pantry untuk meletakkan makanan itu sementara Kashi mengikutinya di belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
