Chapter 35 - remplacé

28.9K 2.2K 308
                                        

"Zacharias!"

"Tuan Harsh, kita harus segera pergi—"

"Zacharias! Bangun!" Harsh berusaha menarik tubuh Zacharias yang terhimpit besi dari potongan mobil yang patah.

Namun laki-laki itu tak bergerak sama sekali.

Timothi menendang pintu mobil lalu menyeret Harsh keluar dari himpitan di jok belakang saat asap mulai mengepul dari tanki bahan bakar yang bocor.

"Zacharias!"

"Tuan, kita tak punya waktu lagi."

"Aku harus mengeluarkan Zacharias dari sana!"

"Dia sudah tewas."

Harsh tahu. Ia tahu Zacharias sudah tewas. Namun ia menyangkal kenyataan itu. Ia masih terus mencoba menarik tubuh Zacharias keluar dari sana meskipun laki-laki itu masih saja tak bergerak. Matanya terpejam, kepalanya menunduk dengan darah yang menetes-netes di pelipisnya. Sementara percikan-percikan api mulai muncul, siap meledakkan mobil. Tanpa disadari, tangannya kini terlepas. Tubuhnya bergerak mundur sejauh mungkin dipapah susah payah oleh Timothi.

Mereka reflek merunduk saat akhirnya mobil itu meledak.

Bola matanya berlinang, rahangnya mengeras. Ia masih disana memandangi api yang kini melahap tubuh tak bernyawa Zacharias. Hatinya terasa jauh lebih sakit ketimbang lukanya sendiri. Namun bersama Timothi ia berpaling meninggalkan tempat itu, berjalan tertatih-tatih mencari jalan keluar dari hutan sambil memegangi perutnya yang tertusuk benda tumpul dari serpihan mobil.

"Tak lama lagi kita akan tiba di jalan raya. Anda harus tetap sadar."

Meski belum terpejam, namun penglihatan Harsh mulai buram. Segala sesuatu di hadapannya tampak berputar-putar. Ia terus melangkah meskipun tenaganya semakin lama semakin berkurang. Mereka tak tahu sudah berapa lama berada disana sampai akhirnya suara-suara bising jalanan sayup-sayup mulai terdengar di telinga.

Mereka tiba di pinggir jalan yang sepi kini. Timothi langsung mengeluarkan pistol dan berdiri di tengah jalan, menghadang sebuah mobil yang melintas. Mobil itu mau tak mau berhenti karena ketakutan. Pengemudinya adalah seorang wanita paruh baya bersama dengan putrinya yang masih berusia tak lebih dari delapan tahun. Anak itu terdiam, gemetaran, namun tak menangis.

"Jalan!" perintah Timothi sembari menodongkan pistol ke belakang kepala wanita itu begitu mereka sudah masuk ke jok penumpang.

"T—tolong jangan sakiti kami—"

Timothi memukul sandaran kursi dengan pistolnya hingga wanita itu terperanjat takut. "Jalan sekarang!"

Ia mungkin akan mengusir ibu dan anaknya itu dari mobil dan meninggalkan mereka di tengah jalan sepi andai dirinya kuat mengemudikan mobil. Namun ia tak mampu. Tenaganya sudah terkuras. Kakinya mulai mati rasa. Ia juga terluka parah. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya sendiri hanya karena harus memastikan bahwa sang Tuan tetap tersadar dan selamat. Orang akan berpikir Harsh beruntung memiliki tangan kanan yang setia seperti dirinya, namun sejujurnya, Timothi lah yang beruntung bisa mengabdikan diri kepada orang seperti Harsh. Seseorang yang dianggap monster oleh orang-orang namun sebenarnya dia adalah sosok paling penyayang yang pernah ia kenal, yang rela mengorbankan hidupnya demi orang-orang yang dia sayangi.

Beruntunglah mereka yang berhasil mengambil hatinya.

"Tuan Harsh, tetaplah sadar!"

Namun Harsh sudah tak bergerak meskipun ia masih bisa mendengarkan suara Timothi. Nafasnya melemah namun detak jantungnya berpacu. Perlahan-lahan, telinganya pun mulai kehilangan fungsi. Suara-suara yang ia dengar bukan suara yang seharusnya ia dengar. Bukan suara Timothi, bukan suara mobil lalu lalang ataupun klakson-klakson. Suara-suara yang dulu, kini kembali datang. Ingatan-ingatan tentang kematian, darah, tawa, tangis, pembunuhan, pemerkosaan dan pembantaian. Wajah-wajah tak ia kenal yang tersenyum kepadanya dan menjerit di depannya, bola mata dari orang-orang asing yang mengawasinya, seolah siap menghabisinya. Teriakan minta tolong, suara perempuan yang memohon, dua bayi kembar yang menangis, tawa orang jahat, tembakan-tembakan yang berdesing. Ia melihat laki-laki kejam yang sedang menusukkan pisau ke leher seorang anak laki-laki. Ia melihat Isaac dan Zacharias duduk diam, tak bergerak, di dalam mobil yang sedang terbakar. Ia mendengar suara tangisan Kashi yang pilu. Mata indahnya yang sendu sedang menatapnya. Ia ingin menyentuh wanita itu dengan tangannya dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Namun wanita itu malah melompat dari atas gedung yang tinggi.

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang